Tuesday, May 26, 2026
Kisah Tsa'lub si Aktor yang Ulung - ثعلوب ممثل بارع
Posted by Ali Mursyid | May 26, 2026 | No Comments |
Kisah Tamsuh yang Suka Mewarnai - تمسوح يحب التلوين
Posted by Ali Mursyid | May 26, 2026 | No Comments |
Kisah Buby si Burung Hantu yang Bijak - بوبي البومة الحكيمة
Posted by Ali Mursyid | May 26, 2026 | No Comments |
Friday, May 15, 2026
Contoh Soal ASAT Bahasa Arab MTs Kelas 8 Tahun Ajaran 2025-2026
Posted by Ali Mursyid | May 15, 2026 | No Comments |
MTs Arabic - Dengan berakhirnya proses pembelajaran Bahasa Arab khususnya jenjang Madrasah Tsanawiyah di seluruh nusantara, maka agenda rutinan selanjutnya adalah melaksanakan Asesmen Sumatif Akhir Tahun (ASAT). Kegiatan yang sebelumnya dikenal dengan istilah Ulangan Akhir Semester atau Ujian Kenaikan Kelas tersebut merupakan salah satu jenis asesmen yang dilaksanakan oleh madrasah di akhir tahun ajaran.
Adapun guru-guru, khususnya Guru Bahasa Arab, memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama pentingnya dengan pengajaran. Dalam satu analisis, guru bisa menghabiskan 20 sampai 30 persen waktu mereka untuk menghadapi persoalan asesmen. Oleh karena itu, dengan banyaknya waktu yang dicurahkan untuk asesmen, semestinya kegiatan tersebut dilakukan dengan baik dan benar. Guru yang kompeten harus melakukan asesmen sesuai dengan konteks tujuan pembelajaran, mengadaptasi pembelajaran berdasarkan hasil asesmennya, serta menindaklanjuti hasilnya demi kemajuan peserta didik. Pendidik melakukan asesmen hasil belajar dalam bentuk asesmen formatif, pengamatan, penugasan, dan/atau bentuk lain yang diperlukan.
Asesmen hasil belajar oleh pendidik digunakan untuk:
- mengukur dan mengetahui pencapaian Capaian Pembelajaran peserta didik;
- memperbaiki proses pembelajaran;
- menentukan perlakuan dan pendampingan demi kemajuan peserta didik secara berkelanjutan; dan
- menyusun laporan kemajuan hasil belajar harian, tengah semester, akhir semester, akhir tahun, dan/atau kenaikan kelas.
Pendidik melaksanakan asesmen dengan mekanisme sebagai berikut:
- Perancangan strategi asesmen oleh pendidik dilakukan pada saat penyusunan alur tujuan pembelajaran berdasarkan Capaian Pembelajaran;
- Asesmen aspek sikap dilakukan melalui observasi/pengamatan dan teknik asesmen lain yang relevan, dan pelaporannya menjadi tanggung jawab wali kelas atau guru kelas;
- Asesmen aspek pengetahuan dilakukan melalui tes tertulis, tes lisan, dan penugasan sesuai dengan Capaian Pembelajaran yang dinilai;
- Asesmen keterampilan dilakukan melalui praktik, produk, proyek, portofolio, dan/atau teknik lain sesuai dengan Capaian Pembelajaran yang dinilai;
- Peserta didik yang belum mencapai ketuntasan belajar pada satuan pendidikan harus mengikuti pembelajaran remediasi;
- Hasil asesmen dijadikan dasar untuk memberi umpan balik kepada peserta didik. Guru harus memastikan bahwa peserta didik mengetahui kekurangannya dalam pencapaian Capaian Pembelajaran, cara mengatasi kendala yang dihadapi, serta memastikan peserta didik bersedia melakukan tindakan perbaikan diri. Dengan demikian proses asesmen akan meningkatkan motivasi belajar dan membawa perubahan perilaku peserta didik ke arah yang lebih baik; dan
- Hasil asesmen pencapaian pengetahuan dan keterampilan peserta didik disampaikan dalam bentuk angka dan/atau deskripsi.
Adapun dalam artikel ini, saya coba share contoh Soal ASAT Bahasa Arab MTs Kelas 8 Tahun Ajaran 2025-2026 semester genap. Soal ASAT ini merupakan hasil analisa dari berbagai buku sumber Bahasa Arab, terutama Buku Bahasa Arab MTs Kelas 8 edisi revisi tahun 2021.
Soal tersebut dapat bapak/ibu unduh melalui tautan di bawah ini, kemudian mengedit (mengurangi/menambahkan) soal sesuai dengan kebutuhan di madrasahnya masing-masing.
Naskah Soal Asesmen Sumatif Akhir Tahun Bahasa Arab MTs Kelas 8 Tahun Ajaran 2025-2026
Demikian artikel tentang Soal ASAT Bahasa Arab MTs Kelas 8 Tahun Ajaran 2025-2026 semester genap. Semoga bermanfaat.
Jika ada pertanyaan terkait artikel ini, silakan sampaikan di kolom komentar.
Salam, Admin MTs Arabic
Contoh Soal ASAT Bahasa Arab MTs Kelas 7 Tahun Ajaran 2025-2026
Posted by Ali Mursyid | May 15, 2026 | No Comments |
MTs Arabic - Dengan berakhirnya proses pembelajaran Bahasa Arab khususnya jenjang Madrasah Tsanawiyah di seluruh nusantara, maka agenda rutinan selanjutnya adalah melaksanakan Asesmen Sumatif Akhir Tahun (ASAT). Kegiatan yang sebelumnya dikenal dengan istilah Ulangan Akhir Semester atau Ujian Kenaikan Kelas tersebut merupakan salah satu jenis asesmen yang dilaksanakan oleh madrasah di akhir tahun ajaran.
Adapun guru-guru, khususnya Guru Bahasa Arab, memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama pentingnya dengan pengajaran. Dalam satu analisis, guru bisa menghabiskan 20 sampai 30 persen waktu mereka untuk menghadapi persoalan asesmen. Oleh karena itu, dengan banyaknya waktu yang dicurahkan untuk asesmen, semestinya kegiatan tersebut dilakukan dengan baik dan benar. Guru yang kompeten harus melakukan asesmen sesuai dengan konteks tujuan pembelajaran, mengadaptasi pembelajaran berdasarkan hasil asesmennya, serta menindaklanjuti hasilnya demi kemajuan peserta didik. Pendidik melakukan asesmen hasil belajar dalam bentuk asesmen formatif, pengamatan, penugasan, dan/atau bentuk lain yang diperlukan.
Asesmen hasil belajar oleh pendidik digunakan untuk:
- mengukur dan mengetahui pencapaian Capaian Pembelajaran peserta didik;
- memperbaiki proses pembelajaran;
- menentukan perlakuan dan pendampingan demi kemajuan peserta didik secara berkelanjutan; dan
- menyusun laporan kemajuan hasil belajar harian, tengah semester, akhir semester, akhir tahun, dan/atau kenaikan kelas.
Pendidik melaksanakan asesmen dengan mekanisme sebagai berikut:
- Perancangan strategi asesmen oleh pendidik dilakukan pada saat penyusunan alur tujuan pembelajaran berdasarkan Capaian Pembelajaran;
- Asesmen aspek sikap dilakukan melalui observasi/pengamatan dan teknik asesmen lain yang relevan, dan pelaporannya menjadi tanggung jawab wali kelas atau guru kelas;
- Asesmen aspek pengetahuan dilakukan melalui tes tertulis, tes lisan, dan penugasan sesuai dengan Capaian Pembelajaran yang dinilai;
- Asesmen keterampilan dilakukan melalui praktik, produk, proyek, portofolio, dan/atau teknik lain sesuai dengan Capaian Pembelajaran yang dinilai;
- Peserta didik yang belum mencapai ketuntasan belajar pada satuan pendidikan harus mengikuti pembelajaran remediasi;
- Hasil asesmen dijadikan dasar untuk memberi umpan balik kepada peserta didik. Guru harus memastikan bahwa peserta didik mengetahui kekurangannya dalam pencapaian Capaian Pembelajaran, cara mengatasi kendala yang dihadapi, serta memastikan peserta didik bersedia melakukan tindakan perbaikan diri. Dengan demikian proses asesmen akan meningkatkan motivasi belajar dan membawa perubahan perilaku peserta didik ke arah yang lebih baik; dan
- Hasil asesmen pencapaian pengetahuan dan keterampilan peserta didik disampaikan dalam bentuk angka dan/atau deskripsi.
Adapun dalam artikel ini, saya coba share contoh Soal ASAT Bahasa Arab MTs Kelas 7 Tahun Ajaran 2025-2026 semester genap. Soal ASAT ini merupakan hasil analisa dari berbagai buku sumber Bahasa Arab, terutama Buku Bahasa Arab MTs Kelas 7 edisi revisi tahun 2021.
Soal tersebut dapat bapak/ibu unduh melalui tautan di bawah ini, kemudian mengedit (mengurangi/menambahkan) soal sesuai dengan kebutuhan di madrasahnya masing-masing.
Naskah Soal Asesmen Sumatif Akhir Tahun Bahasa Arab MTs Kelas 7 Tahun Ajaran 2025-2026
Demikian artikel tentang Soal ASAT Bahasa Arab MTs Kelas 7 Tahun Ajaran 2025-2026 semester genap. Semoga bermanfaat.
Jika ada pertanyaan terkait artikel ini, silakan sampaikan di kolom komentar.
Salam, Admin MTs Arabic
Sunday, March 15, 2026
Soal dan Jawaban Ujian Madrasah Mapel Bahasa Arab Jenjang Madrasah Tsanawiyah Tahun Ajaran 2025-2026
Posted by Ali Mursyid | March 15, 2026 | 4 Comments |
MTs Arabic - Ujian Madrasah akan dilaksanakan sebentar lagi. Guru madrasah di seluruh nusantara pun sedang sibuk menyusun naskah soal yang akan diujikan pada peserta didik pada penyelenggaraan Ujian Madrasah nanti, termasuk guru-guru Bahasa Arab, baik di tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), maupun Madrasah Aliyah (MA). Format kisi-kisi yang dibuat oleh Tim Penyusun dari Kementerian Agama Pusat sama dengan tahun lalu (2024-2025) dan tugas guru bahasa Arab ialah mengolah kembali sehingga nantinya muncul indikator soal yang pastinya memudahkan untuk mengeksekusi soal.
Format yang ditampilkan pun sama, yaitu dengan tipe soal yang dapat dipilih, mulai dari pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, benar dan salah, isian singkat sampai uraian sesuai dengan tipe soal Asesmen Kompetensi Minimum yang sudah admin MTs Arabic tuliskan pada artikelnya dengan judul Literasi Soal AKM Bahasa Arab Madrasah.
Tuesday, January 27, 2026
Kisi-kisi Soal Ujian Madrasah Mapel Bahasa Arab MTs Tahun Ajaran 2025-2026
Posted by Ali Mursyid | January 27, 2026 | No Comments |
MTs Arabic - Dalam rangka meningkatkan kualitas penyelenggaraan ujian madrasah pada akhir jenjang pendidikan di madrasah dalam bentuk Ujian Madrasah (UM) Tahun Ajaran 2025/2026, Direktorat KSKK Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI telah menyiapkan kisi-kisi Ujian Madrasah khususnya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab.
I. Pengertian
Proses pembelajaran merupakan rangkaian kegiatan yang meliputi perencanaan pembelajaran, kegiatan pembelajaran dan asesmen/ penilaian, sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lainnya.
Kegiatan asesmen pembelajaran di madrasah meliputi; 1) Asesmen formatif yaitu asesmen/penilaian yang dilakukan untuk melihat perkembangan dan kemajuan keberhasilan proses pembelajaran; 2) Asesmen sumatif yaitu asesmen/penilaian hasil belajar untuk mengukur capaian kompetensi peserta didik. Asesmen sumatif dapat dilakukan pada akhir pembelaran dalam kurun waktu tertentu, semester dan/atau pada akhir jenjang pendidikan. Asemen sumatif yang dilakukan pada akhir jenjang pendidikan madrasah disebut Ujian Madrasah (UM). Ujian Madrasah adalah asesmen sumatif yang diselenggarakan pada akhir jenjang pendidikan madrasah untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik sesuai Standar Kompetensi Lulusan yang telah ditetapkan.
Ujian Madrasah (UM) meliputi seluruh mata pelajaran yang diajarkan pada kelas akhir pada satuan pendidikan, baik kelompok mata pelajaran wajib maupun muatan lokal. Ujian Madrasah (UM) diikuti oleh peserta didik pada akhir jenjang pendidikan pada Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) sebagai salah satu persyaratan untuk penentuan kelulusan. Hal tersebut menegaskan bahwa pemerintah memberi wewenang penuh kepada satuan pendidikan untuk menyelenggarakan asesmen pada akhir jenjang pendidikan untuk mengukur pencapaian standar kompetensi lulusan bagi peserta didiknya.
Dalam rangka standarisasi penyelenggaraan Ujian Madrasah (UM), maka Direktorat Jenderal Pendidikan Islam menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) Penyelenggaraan Ujian Madrasah sebagai panduan bagi Guru, Kepala, Pengawas Madrasah, dan pemangku kepentingan lainnya dalam menyelenggarakan Ujian Madrasah.
Akhir dari proses pembelajaran adalah penilaian hasil belajar. Penilaian hasil belajar merupakan salah satu komponen penting dalam penyelenggaraan pendidikan di madrasah. Penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan data/informasi untuk mengukur capaian hasil belajar peserta didik terhadap Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang telah ditetapkan. Kegiatan penilaian hasil belajar di madrasah meliputi;
1) Penilaian harian (PH) / Asesmen Formatif yaitu penilaian yang dilakukan untuk mengukur capaian kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu kompetensi dasar (KD) atau lebih;
2) Penilaian Akhir Semester (PAS) / Asesmen Sumatif yaitu penilaian yang dilakukan untuk mengukur capaian kompetensi peserta didik pada akhir semester ganjil;
3) Penilaian Akhir Tahun (PAT) / Asesmen Sumatif yaitu penilaian yang dilakukan untuk mengukur capaian kompetensi peserta didik pada akhir semester genap; dan
4) Ujian Madrasah (UM) yaitu penilaian yang dilakukan untuk mengukur capaian kompetensi peserta didik pada akhir jenjang pendidikan.
Adapun dalam artikel ini, admin bagikan kisi-kisi Ujian Madrasah Mapel Bahasa Arab khusus untuk jenjang Madrasah Tsanawiyah berdasarkan SK Dirjen Nomor 3302.
________________________________________
II. Kisi-kisi Ujian Madrasah Mapel Bahasa Arab MTs Tahun Ajaran 2025-2026
Asatidz yang membutuhkan file Kisi-kisi Soal Ujian Madrasah Mapel Bahasa Arab MTs Tahun Ajaran 2025-2026 yang sudah admin pisahkan dari Kisi-kisi semua mapel, silahkan unduh di bawah ini :
Demikian artikel terkait Kisi-kisi Soal Ujian Madrasah Mapel Bahasa Arab jenjang MTs Tahun Ajaran 2025-2026 sebagai gambaran dan panduan bapak/ibu untuk mempermudah menyusun soal Ujian Madrasah tahun ini, terutama bagi asatidz yang di madrasahnya sedang menerapkan kurikulum merdeka. Semoga الله memudahkan kita dalam proses penyusunan soal tersebut sesuai dengan yang diharapkan.
Semoga bermanfaat.
Salam,
Admin MTs Arabic
Baca juga :
Kisi-kisi Soal Ujian Madrasah Mapel Bahasa Arab Jenjang MI Tahun Ajaran 2025-2026
Kisi-kisi Soal Ujian Madrasah Mapel Bahasa Arab Jenjang MTs Tahun Ajaran 2025-2026
Kisi-kisi Soal Ujian Madrasah Mapel Bahasa Arab Wajib Jenjang MA Tahun Ajaran 2025-2026
Kisi-kisi Soal Ujian Madrasah Mapel Bahasa Arab Peminatan Jenjang MA Tahun Ajaran 2025-2026
Kisi-kisi Soal Ujian Madrasah Mapel Bahasa Arab Keagamaan Jenjang MA Tahun Ajaran 2025-2026
Saturday, January 24, 2026
Tips Menyusun Tujuan Pembelajaran Insersi KBC
Posted by Ali Mursyid | January 24, 2026 | No Comments |
DISCLAIMER!!!
"Tidak ada aturan baku bagaimana cara membuat tujuan pembelajaran, terlebih jika diinsersikan dengan kurikulum berbasis cinta. Silakan disesuaikan dengan karakteristik madrasah, guru (mata pelajaran), murid, dan lingkungan nya masing-masing."
Tuesday, January 20, 2026
Contoh Kasus Computational Thinking pada Mata Pelajaran Bahasa Arab
Posted by Ali Mursyid | January 20, 2026 | No Comments |
MTs Arabic - Setiap hari, tanpa kita sadari, kita selalu berhadapan dengan masalah dan pilihan. Mulai dari hal sederhana seperti mengatur waktu berangkat sekolah agar tidak terlambat, sampai persoalan yang lebih kompleks seperti menyelesaikan tugas kelompok atau mengambil keputusan penting. Dalam proses itu, sebenarnya kita sedang menggunakan cara berpikir yang terstruktur dan logis. Cara berpikir inilah yang dikenal sebagai Computational Thinking.
Computational Thinking, atau berpikir komputasional, bukanlah konsep yang hanya milik dunia komputer dan teknologi. Ia adalah cara berpikir manusia untuk memahami masalah, menyederhanakannya, lalu menyusun solusi secara runtut dan masuk akal. Dalam pendidikan, kemampuan ini menjadi sangat penting karena membantu peserta didik tidak hanya mengetahui jawaban, tetapi memahami proses bagaimana sebuah jawaban diperoleh.
Dalam konteks pendidikan, Computational Thinking berperan sebagai fondasi cara berpikir. Pendidikan modern tidak lagi cukup jika hanya menekankan hafalan dan penguasaan materi. Siswa perlu dibekali kemampuan untuk menganalisis situasi, melihat keterkaitan antar masalah, dan mengambil keputusan yang tepat. Berpikir komputasional membantu siswa menghadapi persoalan dengan lebih tenang karena mereka terbiasa menyusun langkah, bukan sekadar bereaksi secara spontan.
Salah satu ciri utama Computational Thinking adalah kebiasaan memecah masalah besar menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Dalam dunia pendidikan, hal ini terlihat ketika siswa menghadapi proyek atau tugas besar. Tugas tersebut tidak langsung diselesaikan sekaligus, melainkan dibagi menjadi beberapa tahap agar lebih mudah dikelola. Cara berpikir seperti ini membuat siswa lebih terorganisir dan tidak mudah merasa kewalahan.
Selain itu, berpikir komputasional juga melibatkan kemampuan mengenali pola. Dalam proses belajar, siswa sering menemukan kesamaan antara satu materi dengan materi lain. Misalnya, pola penyebab dan akibat dalam pelajaran IPS, atau pola langkah penyelesaian soal dalam matematika. Dengan mengenali pola, siswa lebih cepat memahami materi baru karena mereka dapat mengaitkannya dengan pengalaman sebelumnya.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah kemampuan menyaring informasi atau melakukan abstraksi. Di era informasi yang melimpah, siswa sering dihadapkan pada banyak data dan penjelasan sekaligus. Berpikir komputasional membantu mereka fokus pada inti persoalan dan mengabaikan detail yang tidak relevan. Dengan begitu, proses berpikir menjadi lebih jernih dan terarah.
Computational Thinking juga berkaitan erat dengan kebiasaan menyusun langkah secara berurutan. Dalam pembelajaran, hal ini terlihat ketika siswa diminta menjelaskan proses atau prosedur, seperti langkah melakukan percobaan, menulis laporan, atau menyusun argumen. Urutan yang jelas menunjukkan bahwa siswa memahami hubungan sebab-akibat dan tidak sekadar menebak hasil akhir.
Pentingnya Computational Thinking dalam pendidikan semakin terasa ketika dunia terus berubah dengan cepat. Tantangan yang dihadapi generasi saat ini tidak selalu memiliki jawaban tunggal. Banyak persoalan membutuhkan pemikiran yang fleksibel, logis, dan kreatif sekaligus. Berpikir komputasional membantu siswa mengembangkan ketiganya secara seimbang.
Di sisi lain, Computational Thinking juga mendorong kemandirian belajar. Siswa yang terbiasa berpikir sistematis cenderung lebih percaya diri dalam menyelesaikan tugas. Mereka tidak mudah menyerah karena tahu bahwa setiap masalah bisa dihadapi dengan memecahnya menjadi langkah-langkah kecil. Kebiasaan ini sangat berguna, tidak hanya di sekolah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan yang mengintegrasikan Computational Thinking juga membantu membentuk karakter siswa yang reflektif. Mereka terbiasa mengevaluasi proses yang telah dilakukan: langkah mana yang berhasil, mana yang perlu diperbaiki, dan apa yang bisa dilakukan dengan lebih baik ke depan. Proses refleksi ini membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna.
Secara keseluruhan, Computational Thinking bukanlah mata pelajaran baru, melainkan cara baru dalam memandang proses belajar. Ia mengajarkan bahwa belajar bukan hanya tentang mengumpulkan pengetahuan, tetapi tentang melatih cara berpikir agar lebih terstruktur, logis, dan efektif. Dengan membiasakan berpikir komputasional, pendidikan tidak hanya mencetak siswa yang pintar secara akademik, tetapi juga individu yang siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Saturday, January 17, 2026
Webinar Komunitas Guru Erlangga: Perencanaan Pembelajaran Berbasis Cinta dan Pembelajaran Mendalam di Madrasah
Posted by Ali Mursyid | January 17, 2026 | No Comments |
Assalamu’alaikum Bapak/Ibu Guru Madrasah yang luar biasa! 👋
Yuk bergabung dalam Webinar KGE Madrasah (Komunitas Guru Erlangga) yang akan diselenggarakan pada:
💡 Tema: Perencanaan Pembelajaran Berbasis Cinta dan Pembelajaran Mendalam di Madrasah
📅 Sabtu, 24 Januari 2026
🕓 Pukul 09.00–11.30 WIB
📍 Live via Zoom
🎙️ Bersama narasumber:
Fithrotus Subhaniyah, M.Pd.
(Penyusun Panduan Kurikulum Berbasis Cinta Kemenag RI)
🎙️ Moderator:
Ali Mursyid, S.Hum., M.Pd.
📜 Gratis & bersertifikat
📲 Daftar segera melalui link: bit.ly/KGE24Januari2026
Thursday, January 15, 2026
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - An-Na’t (Kata Sifat)
Posted by Ali Mursyid | January 15, 2026 | 1 Comment |
An-Na’t (Kata Sifat)
An-Na’t (النَّعْتُ) adalah kata sifat yang berfungsi untuk menggambarkan atau menjelaskan sifat dari kata benda (isim) yang berada tepat sebelumnya.
Dalam struktur ini, terdapat dua istilah:
- Na’t (نَعْتٌ): Kata sifat itu sendiri.
- Man’ut (مَنْعُوتٌ): Kata benda yang disifati.
Aturan terpenting dari Na’t adalah ia selalu mengikuti keadaan i’rab (rafa’, nashab, atau jarr) dari Man’ut-nya. Jika Man’ut-nya marfu’, maka Na’t-nya juga marfu’, dan begitu seterusnya.
Perhatikan contoh berikut yang menunjukkan bagaimana Na’t selalu mengikuti Man’ut:
Keadaan Rafa’: هَذَا كِتَابٌ مُفِيدٌ (Ini adalah buku yang bermanfaat).
Keduanya berharakat akhir dhammahtain (marfu’).
Keadaan Nashab: قَرَأْتُ كِتَابًا مُفِيدًا (Saya membaca buku yang bermanfaat).
Keduanya berharakat akhir fathatain (manshub).
Keadaan Jarr: نَظَرْتُ فِي كِتَابٍ مُفِيدٍ (Saya melihat pada buku yang bermanfaat).
Keduanya berharakat akhir kasratain (majrur).
Kaidah Utama (القَوَاعِدُ)
Berikut adalah definisi formal untuk aturan ini sesuai teks:
23- النَّعْتُ لَفْظٌ يَدُلُّ عَلَى صِفَةٍ فِي اسْمٍ قَبْلَهُ، وَيُسَمَّى الِاسْمُ الْمَوْصُوفُ مَنْعُوتًا.
Terjemah: An-Na’t adalah lafal (kata) yang menunjukkan suatu sifat pada isim (kata benda) sebelumnya, dan isim yang disifati itu dinamakan Man’ut.
24- النَّعْتُ يَتْبَعُ الْمَنْعُوتَ فِي رَفْعِهِ وَنَصْبِهِ وَجَرِّهِ.
Terjemah: An-Na’t mengikuti Man’ut dalam keadaan rafa’, nashab, dan jarr-nya.
Baca juga:
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Jumlatul Mufidah (Kalimat Sempurna)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Ajza’ul Jumlah (Bagian-Bagian Kalimat)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Fa’il (Subjek/Pelaku)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Maf’ul Bih (Objek)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Jumlah Al-Fi’liyyah (Kalimat Verbal)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Jumlah Al-Ismiyyah (Kalimat Nominal)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaiah) - Rafa’ Fi’il Mudhari’ (Fi’il Mudhari’ Marfu’)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Isim Majrur (Jarrul Ismi)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - An-Na’t (Kata Sifat)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Isim Majrur (Jarrul Ismi)
Posted by Ali Mursyid | January 15, 2026 | No Comments |
Isim Majrur (Jarrul Ismi)
Selain dalam keadaan marfu’ (berakhiran dhammah) dan manshub (berakhiran fathah), sebuah isim (kata benda) juga bisa berada dalam keadaan majrur (مَجْرُورٌ). Tanda jarr yang paling umum adalah harakat kasrah ( ِ ) di akhir kata.
Penyebab utama sebuah isim menjadi majrur adalah karena ia didahului oleh salah satu partikel (huruf) yang disebut Huruf Jar (حُرُوفُ الْجَرِّ).
Huruf Jar yang dibahas dalam materi ini adalah:
مِنْ (min) – dari
إِلَى (ila) – ke
عَنْ (‘an) – dari / tentang
عَلَى (‘ala) – di atas
فِي (fi) – di dalam
بِـ (bi) – dengan
لِـ (li) – untuk / milik
Contoh: Pada kalimat نَزَلَ الْمَطَرُ مِنَ السَّمَاءِ, kata السَّمَاءِ menjadi majrur (berharakat akhir kasrah) karena didahului oleh huruf jar مِنْ.
Kaidah Utama (القَوَاعِدُ)
Berikut adalah definisi formal untuk aturan ini sesuai teks:
22- يُجَرُّ الِاسْمُ إِذَا سَبَقَهُ حَرْفٌ مِنْ حُرُوفِ الْجَرِّ الْآتِيَةِ وَهِيَ: مِنْ، وَإِلَى، وَعَنْ، وَعَلَى، وَفِي، وَالْبَاءُ، وَاللَّامُ.
Terjemah: Sebuah isim menjadi majrur jika ia didahului oleh salah satu dari huruf-huruf jar berikut, yaitu: min, ila, ‘an, ‘ala, fi, al-ba’, dan al-lam.
Baca juga:
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Jumlatul Mufidah (Kalimat Sempurna)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Ajza’ul Jumlah (Bagian-Bagian Kalimat)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Fa’il (Subjek/Pelaku)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Maf’ul Bih (Objek)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Jumlah Al-Fi’liyyah (Kalimat Verbal)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Jumlah Al-Ismiyyah (Kalimat Nominal)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaiah) - Rafa’ Fi’il Mudhari’ (Fi’il Mudhari’ Marfu’)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Isim Majrur (Jarrul Ismi)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - An-Na’t (Kata Sifat)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Inna dan Saudara-saudaranya (إِنَّ وَأَخَوَاتُهَا)
Posted by Ali Mursyid | January 15, 2026 | No Comments |
Inna dan Saudara-saudaranya (إِنَّ وَأَخَوَاتُهَا)
Inna dan saudara-saudaranya adalah sekelompok huruf (partikel) yang masuk ke dalam kalimat Jumlah Ismiyyah (yang tersusun dari Mubtada’ dan Khabar). Fungsinya adalah kebalikan dari fungsi Kana dan saudara-saudaranya.
Aturan perubahannya adalah sebagai berikut:
Mubtada’: Berubah menjadi manshub (tanda akhirnya fathah), dan namanya berubah menjadi Isim Inna (اِسْمُ إِنَّ).
Khabar: Tetap dalam keadaan marfu’ (tanda akhirnya dhammah), dan namanya berubah menjadi Khabar Inna (خَبَرُ إِنَّ).
Perhatikan perubahan pada contoh berikut:
Sebelum: الْجَمَلُ صَبُورٌ (Unta itu sabar.) → Keduanya marfu’.
Sesudah: إِنَّ الْجَمَلَ صَبُورٌ (Sesungguhnya unta itu sabar.) → الْجَمَلَ menjadi manshub, sedangkan صَبُورٌ tetap marfu’.
Saudara-saudara Inna yang dibahas dalam materi ini adalah:
أَنَّ (anna), كَأَنَّ (ka’anna), لَكِنَّ (lakinna), لَيْتَ (laita), dan لَعَلَّ (la’alla). Masing-masing huruf ini memiliki fungsi makna tersendiri, seperti إِنَّ/أَنَّ untuk penegasan, لَكِنَّ untuk menyatakan pertentangan (tetapi), كَأَنَّ untuk perumpamaan, لَيْتَ untuk harapan (yang sulit terwujud), dan لَعَلَّ untuk harapan (yang mungkin terwujud).
Kaidah Utama (القَوَاعِدُ)
Berikut adalah definisi formal untuk aturan ini sesuai teks:
21- إِنَّ، وَأَنَّ، وَكَأَنَّ، وَلَكِنَّ، وَلَيْتَ، وَلَعَلَّ تَدْخُلُ عَلَى الْمُبْتَدَأِ وَالْخَبَرِ. فَتَنْصِبُ الْمُبْتَدَأَ وَيُسَمَّى اسْمَهَا، وَتَرْفَعُ الْخَبَرَ وَيُسَمَّى خَبَرَهَا.
Terjemah: Inna, anna, ka’anna, lakinna, laita, dan la’alla masuk ke dalam susunan Mubtada’ dan Khabar. Lalu mereka men-nashab-kan Mubtada’ (dan dinamakan Isim-nya) dan me-rafa’-kan Khabar (dan dinamakan Khabar-nya).
Baca juga:
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Jumlatul Mufidah (Kalimat Sempurna)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Ajza’ul Jumlah (Bagian-Bagian Kalimat)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Fa’il (Subjek/Pelaku)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Maf’ul Bih (Objek)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Jumlah Al-Fi’liyyah (Kalimat Verbal)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Jumlah Al-Ismiyyah (Kalimat Nominal)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaiah) - Rafa’ Fi’il Mudhari’ (Fi’il Mudhari’ Marfu’)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Isim Majrur (Jarrul Ismi)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - An-Na’t (Kata Sifat)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Kana dan Saudara-saudaranya (كَانَ وَأَخَوَاتُهَا)
Posted by Ali Mursyid | January 15, 2026 | No Comments |
Kana dan Saudara-saudaranya (كَانَ وَأَخَوَاتُهَا)
Kana dan saudara-saudaranya adalah sekelompok kata kerja (fi’il) khusus yang masuk ke dalam kalimat Jumlah Ismiyyah (yang tersusun dari Mubtada’ dan Khabar) dan mengubah status tata bahasanya (i’rab).
Fungsi utamanya adalah sebagai berikut:
Mubtada’: Tetap dalam keadaan marfu’ (tanda akhirnya dhammah), namun namanya berubah menjadi Isim Kana (اِسْمُ كَانَ).
Khabar: Berubah menjadi manshub (tanda akhirnya fathah), dan namanya berubah menjadi Khabar Kana (خَبَرُ كَانَ).
Perhatikan perubahan pada contoh berikut:
Sebelum: الْبَيْتُ نَظِيفٌ (Rumah itu bersih.) → Keduanya marfu’.
Sesudah: كَانَ الْبَيْتُ نَظِيفًا (Dahulu rumah itu bersih.) → الْبَيْتُ tetap marfu’, sedangkan نَظِيفًا menjadi manshub.
Saudara-saudara Kana yang dibahas dalam materi ini adalah:
صَارَ (menjadi), لَيْسَ (bukan/tidak), أَصْبَحَ (menjadi di waktu pagi), أَمْسَى (menjadi di waktu sore), أَضْحَى (menjadi di waktu dhuha), ظَلَّ (tetap/senantiasa di waktu siang), بَاتَ (melalui/berada di waktu malam).
Kaidah Utama (القَوَاعِدُ)
Berikut adalah definisi formal untuk aturan ini sesuai teks:
18- تَدْخُلُ كَانَ عَلَى الْمُبْتَدَأِ وَالْخَبَرِ، فَتَرْفَعُ الْأَوَّلَ وَيُسَمَّى اسْمُهَا وَتَنْصِبُ الثَّانِيَ وَيُسَمَّى خَبَرُهَا.
Terjemah: Kana masuk ke dalam susunan Mubtada’ dan Khabar, lalu ia me-rafa’-kan yang pertama (dan dinamakan Isim-nya) dan men-nashab-kan yang kedua (dan dinamakan Khabar-nya).
19- مِثْلُ كَانَ فِيمَا تَقَدَّمَ صَارَ، وَلَيْسَ، وَأَصْبَحَ، وَأَمْسَى، وَأَضْحَى، وَظَلَّ، وَبَاتَ، وَتُسَمَّى هَذِهِ الْأَفْعَالُ أَخَوَاتِ كَانَ.
Terjemah: Seperti Kana dalam aturan tersebut adalah shaara, laisa, ashbaha, amsaa, adhaa, zhalla, dan baata, dan fi’il-fi’il ini dinamakan saudara-saudara Kana.
20- لِكُلِّ فِعْلٍ مِنْ هَذِهِ الْأَفْعَالِ مُضَارِعٌ وَأَمْرٌ يَعْمَلَانِ عَمَلَ الْمَاضِي إِلَّا “لَيْسَ” فَلَا يَأْتِي مِنْهَا مُضَارِعٌ وَلَا أَمْرٌ.
Terjemah: Setiap fi’il dari fi’il-fi’il ini memiliki bentuk mudhari’ dan amr yang berfungsi sama seperti bentuk madhi-nya, kecuali “laisa” yang tidak memiliki bentuk mudhari’ dan amr.
Baca juga:
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Jumlatul Mufidah (Kalimat Sempurna)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Ajza’ul Jumlah (Bagian-Bagian Kalimat)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Fa’il (Subjek/Pelaku)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Maf’ul Bih (Objek)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Jumlah Al-Fi’liyyah (Kalimat Verbal)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Jumlah Al-Ismiyyah (Kalimat Nominal)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaiah) - Rafa’ Fi’il Mudhari’ (Fi’il Mudhari’ Marfu’)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Isim Majrur (Jarrul Ismi)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - An-Na’t (Kata Sifat)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Rafa’ Fi’il Mudhari’ (Fi’il Mudhari’ Marfu’)
Posted by Ali Mursyid | January 15, 2026 | No Comments |
Rafa’ Fi’il Mudhari’ (Fi’il Mudhari’ Marfu’)
Setelah membahas keadaan manshub (karena didahului huruf nashab) dan majzum (karena didahului huruf jazm), materi ini menjelaskan tentang keadaan dasar atau hukum asal dari Fi’il Mudhari’.
Hukum asal dari Fi’il Mudhari’ adalah marfu’ (مَرْفُوعٌ), yang umumnya ditandai dengan harakat dhammah ( ُ ) di akhir kata kerja.
Fi’il Mudhari’ akan selalu berada dalam keadaan marfu’ selama ia tidak didahului oleh salah satu dari huruf-huruf penyebab nashab (seperti أنْ, لنْ) ataupun huruf-huruf penyebab jazm (seperti لمْ, لا).
Contohnya pada kalimat يَعُودُ الْمُسَافِرُ (Musafir itu kembali), kata يَعُودُ dibaca marfu’ karena tidak ada huruf nashab atau jazm yang mendahuluinya.
Kaidah Utama (القَوَاعِدُ)
Berikut adalah definisi formal untuk aturan ini sesuai teks:
17- يُرْفَعُ الْفِعْلُ الْمُضَارِعُ إِذَا لَمْ تَسْبَقْهُ أَدَاةٌ مِنْ أَدَوَاتِ النَّصْبِ أَوِ الْجَزْمِ.
Terjemah: Fi’il Mudhari’ dibaca rafa’ jika ia tidak didahului oleh salah satu alat (huruf) nashab atau jazm.
Baca juga:
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Jumlatul Mufidah (Kalimat Sempurna)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Ajza’ul Jumlah (Bagian-Bagian Kalimat)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Fa’il (Subjek/Pelaku)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Maf’ul Bih (Objek)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Jumlah Al-Fi’liyyah (Kalimat Verbal)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Jumlah Al-Ismiyyah (Kalimat Nominal)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaiah) - Rafa’ Fi’il Mudhari’ (Fi’il Mudhari’ Marfu’)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Isim Majrur (Jarrul Ismi)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - An-Na’t (Kata Sifat)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Jazm Fi’il Mudhari’ (Fi’il Mudhari’ Majzum)
Posted by Ali Mursyid | January 15, 2026 | No Comments |
Jazm Fi’il Mudhari’ (Fi’il Mudhari’ Majzum)
Selain dalam keadaan marfu’ (asal) dan manshub, Fi’il Mudhari’ juga bisa berada dalam keadaan majzum (مَجْزُومٌ). Tanda jazm yang paling umum adalah harakat sukun ( ْ ) di akhir kata kerja.
Perubahan ini terjadi jika Fi’il Mudhari’ didahului oleh salah satu huruf jawazim (الجَوَازِمُ) atau “penyebab jazm“. Berdasarkan materi ini, huruf-huruf tersebut dibagi menjadi dua kategori:
1. Yang Men-jazm-kan SATU Fi’il
Huruf ini hanya memengaruhi satu kata kerja setelahnya.
لَمْ (lam): Berfungsi untuk menafikan (menidakkan) suatu perbuatan di masa lampau. Contoh: يَحْفَظُ menjadi لَمْ يَحْفَظْ (dia tidak menghafal).
لَا النَّاهِيَةُ (la an-nahiyah): Berfungsi untuk melarang seseorang melakukan sesuatu. Contoh: تَأْكُلُ menjadi لَا تَأْكُلْ (jangan makan).
2. Yang Men-jazm-kan DUA Fi’il
Huruf ini memengaruhi dua kata kerja dalam satu kalimat syarat (sebab-akibat).
إِنْ (in): Berfungsi sebagai huruf syarat (“jika”). Ia men-jazm-kan fi’il pertama (fi’il syarat) dan fi’il kedua (jawab syarat).
Contoh: إِنْ تَجْلِسْ فِي مَجْرَى الْهَوَاءِ تَمْرَضْ (Jika kamu duduk di aliran udara, kamu akan sakit). Di sini, baik تَجْلِسْ maupun تَمْرَضْ keduanya menjadi majzum.
Kaidah Utama (القَوَاعِدُ)
Berikut adalah definisi formal untuk aturan ini sesuai teks:
14- يُجْزَمُ الْفِعْلُ الْمُضَارِعُ إِذَا سَبَقَهُ حَرْفٌ جَازِمٌ كَالْحُرُوفِ الْآتِيَةِ، وَهِيَ: لَمْ، وَلَا النَّاهِيَةُ، وَإِنْ.
Terjemah: Fi’il Mudhari’ menjadi majzum jika ia didahului oleh huruf jazm seperti huruf-huruf berikut: lam, la an-nahiyah, dan in.
15- لَمْ، وَلَا النَّاهِيَةُ تَجْزِمَانِ فِعْلًا مُضَارِعًا وَاحِدًا، وَالْحَرْفُ الْأَوَّلُ يَنْفِي حُصُولَ الْفِعْلِ فِي الْمَاضِي، وَالثَّانِي يَنْهَى عَنْ عَمَلِ الْفِعْلِ.
Terjemah: Lam dan la an-nahiyah men-jazm-kan satu fi’il mudhari’. Huruf pertama (lam) menafikan terjadinya perbuatan di masa lampau, dan yang kedua (la) melarang dilakukannya suatu perbuatan.
16- إِنْ، تَجْزِمُ فِعْلَيْنِ، وَتُفِيدُ أَنَّ حُصُولَ الْفِعْلِ الْأَوَّلِ شَرْطٌ فِي حُصُولِ الْفِعْلِ الثَّانِي.
Terjemah: In men-jazm-kan dua fi’il, dan menunjukkan bahwa terjadinya perbuatan pertama adalah syarat bagi terjadinya perbuatan kedua.
Baca juga:
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Jumlatul Mufidah (Kalimat Sempurna)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Ajza’ul Jumlah (Bagian-Bagian Kalimat)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Fa’il (Subjek/Pelaku)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Maf’ul Bih (Objek)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Jumlah Al-Fi’liyyah (Kalimat Verbal)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Al-Jumlah Al-Ismiyyah (Kalimat Nominal)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaiah) - Rafa’ Fi’il Mudhari’ (Fi’il Mudhari’ Marfu’)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - Isim Majrur (Jarrul Ismi)
Ringkasan Kitab An-Naḥwu al-Wadih vol. 01 (Ibtidaʾiyyah) - An-Na’t (Kata Sifat)



















