Indonesia Website Awards
Showing posts with label Arsip Kurikulum. Show all posts
Showing posts with label Arsip Kurikulum. Show all posts

Saturday, November 29, 2025

Panduan Pembelajaran dan Asesmen di Madrasah Tahun 2025

MTs Arabic - Panduan Pembelajaran dan Asesmen merupakan dokumen penting dalam implementasi kurikulum madrasah. Dokumen ini mengadaptasi Panduan Pembelajaran dan Asesmen yang diterbitkan oleh Kemendikdasmen, kemudian disesuaikan dengan kekhasan pendidikan madrasah.

Panduan ini memuat prinsip, strategi, serta berbagai contoh yang dapat digunakan oleh guru dan madrasah dalam merancang, melaksanakan, mengevaluasi, hingga melakukan asesmen pembelajaran.

Fokus Panduan Pembelajaran dan Asesmen

  • Pembelajaran: meliputi proses merumuskan capaian pembelajaran menjadi tujuan pembelajaran, sekaligus strategi untuk mencapainya.

  • Asesmen: merupakan proses menemukan bukti ketercapaian tujuan pembelajaran dari aktivitas belajar yang berlangsung.

Keduanya dipandang sebagai satu kesatuan siklus. Asesmen formatif diutamakan karena memberikan gambaran perkembangan kompetensi murid sekaligus umpan balik bagi guru untuk merancang pembelajaran berikutnya agar lebih efektif.

Peran Capaian Pembelajaran

Pemerintah telah menetapkan capaian pembelajaran sebagai dasar pengembangan rancangan pembelajaran pada kegiatan intrakurikuler. Panduan ini memfasilitasi guru dalam:

  • menganalisis capaian pembelajaran,

  • memetakan materi dan dimensi Profil Pelajar Pancasila,

  • menyusun tujuan pembelajaran beserta alurnya,

  • merancang rencana pembelajaran,

  • merencanakan dan melaksanakan asesmen secara menyeluruh.

Panduan ini berfokus pada pembelajaran dan asesmen intrakurikuler, sementara panduan pembelajaran kokurikuler disediakan pada dokumen terpisah.


B. Sasaran Pengguna

Panduan Pembelajaran dan Asesmen digunakan oleh berbagai pihak di lingkungan madrasah, yaitu:

1. Pendidik

Menjadi acuan utama guru dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran di kelas.

2. Kepala Madrasah

Berfungsi sebagai rujukan untuk menjalankan peran sebagai instructional leader. Kepala madrasah diharapkan mampu membangun budaya kolaboratif dan inovatif bagi pendidik sehingga perbaikan pembelajaran dapat berlangsung secara berkelanjutan.

3. Pengawas Madrasah

Panduan ini mendukung pengawas dalam membimbing kepala madrasah dan guru, melakukan refleksi proses pembelajaran, serta berbagi praktik baik dari madrasah lain. Pengawas dapat menjadi pendamping saat muncul tantangan atau kebutuhan konsultasi.

4. Komunitas Belajar

Panduan ini dapat dimanfaatkan dalam forum diskusi seperti KKG, MGMP, maupun komunitas belajar lainnya untuk memunculkan ide-ide inovatif dalam pembelajaran dan asesmen.


C. Cara Menggunakan Panduan

Madrasah dan pendidik memiliki fleksibilitas untuk mengembangkan pembelajaran, perangkat ajar, serta asesmen sesuai karakteristik murid. Setiap guru dapat menentukan teknik, bentuk instrumen, serta waktu pelaksanaan asesmen berdasarkan tujuan pembelajaran.

Dalam penerapannya, panduan ini harus memperhatikan berbagai regulasi resmi yang berlaku, antara lain:

Daftar Regulasi yang Menjadi Rujukan Resmi

  1. Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2025 tentang Standar Kompetensi Lulusan PAUD, Pendidikan Dasar, dan Menengah.

  2. Keputusan Mendikbudristek Nomor 13 Tahun 2025 tentang Kurikulum PAUD hingga Pendidikan Menengah.

  3. Keputusan Menteri Agama Nomor 1503 Tahun 2025 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum pada RA, MI, MTs, MA, dan MAK.

  4. Keputusan Kepala BSKAP Nomor 046/H/KR/2025 tentang Kompetensi dan Tema Projek Profil Pelajar Pancasila.

  5. Keputusan Kepala BSKAP 046/H/KR/2025 tentang Capaian Pembelajaran Kurikulum Merdeka.

  6. Keputusan Dirjen Pendis Nomor … Tahun 2025 tentang Capaian Pembelajaran PAI dan Bahasa Arab pada Madrasah. (menunggu regulasi)

  7. Panduan Pembelajaran dan Asesmen PAUD–Menengah Edisi Revisi 2025.

  8. Keputusan Dirjen Pendis Nomor 4553 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Holistik Integratif pada RA.

Panduan ini memastikan bahwa proses perencanaan, pelaksanaan, dan asesmen pembelajaran di madrasah tetap selaras dengan kebijakan nasional dan kebutuhan khas pendidikan Islam.


Kesimpulan

Panduan Pembelajaran dan Asesmen Madrasah 2025 hadir sebagai rujukan penting bagi guru, kepala madrasah, pengawas, dan komunitas belajar dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Dengan memadukan capaian pembelajaran, asesmen formatif, serta fleksibilitas kurikulum, madrasah dapat menyelenggarakan proses pembelajaran yang lebih adaptif, efektif, dan berorientasi pada perkembangan kompetensi murid.

Selengkapnya tentang Panduan Pembelajaran dan Asesmen di Madrasah Tahun 2025 silakan unduh di bawah ini:

UNDUH FILE

Panduan Kurikulum Madrasah Tahun 2025

MTs Arabic - Panduan Pengembangan Kurikulum Madrasah merupakan dokumen acuan yang digunakan satuan pendidikan untuk merancang sekaligus mengevaluasi kurikulum sesuai kebutuhan peserta didik dan karakter madrasah. Dokumen ini berisi prinsip, fungsi, dan langkah kerja yang diperlukan agar setiap madrasah dapat menyusun kurikulum yang selaras dengan kebijakan nasional, namun tetap mencerminkan ciri khas masing-masing lembaga.

Secara umum, panduan ini membantu madrasah memahami bagaimana kurikulum disusun, apa saja komponen yang harus ada di dalamnya, serta bagaimana proses implementasi dilakukan secara berkelanjutan. Dengan demikian, kurikulum tidak hanya menjadi dokumen administratif, tetapi benar-benar menjadi pedoman dalam penyelenggaraan pembelajaran yang bermakna.


1. Pengertian dan Fungsi Panduan

Panduan Pengembangan Kurikulum Madrasah digunakan sebagai rujukan utama dalam menyusun kurikulum yang mengacu pada standar nasional pendidikan. Tetapi, madrasah memiliki keleluasaan untuk menyesuaikan isi dan format dokumen sesuai karakteristik murid, lingkungan sekitar, dan kebutuhan daerah.

Dalam proses penyusunannya, panduan ini dipakai bersama dokumen pendukung lain seperti Panduan Pembelajaran dan Asesmen, Panduan Kokurikuler, serta Panduan Kurikulum Berbasis Cinta. Ketiganya saling melengkapi untuk membentuk kurikulum yang terstruktur.

Kurikulum Madrasah dipandang sebagai living document, artinya dokumen ini harus terus diperbarui melalui analisis dan refleksi. Fungsinya antara lain:

  • mendorong kemandirian madrasah dalam merencanakan pembelajaran,

  • membuka ruang bagi diversifikasi kurikulum sesuai potensi daerah,

  • serta membangun kolaborasi antara pendidik, orang tua, dan masyarakat.


2. Cara Menggunakan Panduan

Panduan ini dirancang untuk membantu madrasah menyusun kurikulum yang mengarah pada pencapaian delapan dimensi profil lulusan, seperti keimanan, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, hingga keterampilan berkolaborasi.

Selain itu, kurikulum juga memuat nilai-nilai Panca Cinta: Cinta Allah dan Rasul, Cinta Ilmu, Cinta Diri dan Sesama, Cinta Lingkungan, dan Cinta Tanah Air.

Untuk tingkat Raudhatul Athfal (RA), penyusunan kurikulum mengikuti Standar Tingkat Pencapaian Perkembangan Anak (STPPA).


3. Sasaran Pengguna

Beberapa pihak yang menjadi pengguna utama dokumen ini meliputi:

  • Kepala Madrasah, sebagai penanggung jawab penyusunan dan evaluasi kurikulum.

  • Pendidik, yang menggunakan kurikulum sebagai dasar dalam merancang pembelajaran dan asesmen.

  • Kementerian Agama, yang memberikan bimbingan pada proses pengembangan kurikulum.

  • Pengawas Madrasah, berperan dalam supervisi dan pendampingan.

  • Yayasan, sebagai pihak yang memastikan kesesuaian kurikulum dengan visi-misi lembaga.


4. Prinsip Penyusunan Kurikulum

Dalam penyusunan Kurikulum Madrasah, terdapat beberapa prinsip yang perlu diwujudkan:

  1. Berpusat pada murid, memperhatikan kebutuhan dan perkembangan peserta didik.

  2. Kontekstual, menggambarkan budaya dan kekhasan madrasah.

  3. Esensial, memuat hal-hal pokok secara jelas dan ringkas.

  4. Akuntabel, dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan data dan kondisi madrasah.

  5. Melibatkan pemangku kepentingan, mulai dari komite, orang tua, hingga dunia kerja (khusus MAK).


5. Acuan dan Standar Pengembangan Kurikulum

Kurikulum dikembangkan dengan mengacu pada dua hal pokok:

Selain itu, seluruh proses mengacu pada Standar Nasional Pendidikan seperti Standar Isi, Standar Proses, Standar Penilaian, Standar Sarpras, dan lainnya.


6. Proses Penyusunan Kurikulum

Karena kurikulum bersifat dinamis, proses penyusunannya harus dilakukan secara bertahap.

Bagi madrasah yang baru mulai, langkah awal meliputi:

  • menentukan inspirasi kurikulum,

  • memastikan visi dan misi sudah dirumuskan,

  • membentuk tim penyusun,

  • serta melibatkan berbagai pemangku kepentingan internal maupun eksternal.

Meski fleksibel, penyusunan tetap harus mengikuti kerangka nasional.


7. Peninjauan dan Supervisi

Madrasah yang sudah memiliki kurikulum perlu melakukan peninjauan secara berkala. Pada tahap ini, pengawas madrasah berperan untuk:

  • menilai keselarasan dengan prinsip dan komponen minimal,

  • melakukan supervisi,

  • serta memberikan pendampingan jika ditemukan aspek yang perlu perbaikan.

Pengawas juga membantu memfasilitasi refleksi, menganalisis kebutuhan daerah, membangun jejaring, dan melibatkan stakeholder penting lainnya.


Kesimpulan

Panduan Pengembangan Kurikulum Madrasah membantu lembaga membuat kurikulum yang relevan, kontekstual, dan berorientasi pada murid. Melalui panduan ini, madrasah dapat merancang kurikulum yang selaras dengan visi-misi lembaga dan berbasis data, sehingga mampu menghasilkan profil lulusan yang beriman, berkarakter, dan kompeten sesuai tuntutan zaman.

Selengkapnya tentang Panduan Kurikulum Madrasah Tahun 2025 silakan unduh di bawah ini:

UNDUH FILE

Tuesday, August 19, 2025

Keputusan Dirjen Pendis Nomor 6077 Tahun 2025 tentang Panduan Kurikulum Berbasis Cinta

MTs Arabic - Tahun 2045 menjadi momen penting bagi bangsa Indonesia yang dikenal dengan visi Indonesia Emas. Pada tahun tersebut, Indonesia bercita-cita menjadi negara maju dengan perekonomian yang kuat, pemerataan kesejahteraan, keadilan sosial, dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berdaya saing global. Target utama meliputi peningkatan kualitas hidup masyarakat, penguasaan teknologi, dan keberlanjutan lingkungan.

Untuk mewujudkan visi besar tersebut, kunci utamanya terletak pada pengembangan SDM yang berkualitas. Pada konteks ini, SDM unggul tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga memiliki moralitas tinggi, integritas, dan keterampilan untuk menghadapi tantangan global. Terdapat tujuh ciri SDM berkualitas, yakni memiliki kemampuan akademik dan kognitif, terampil bersosialisasi dan berkomunikasi, mempunyai etos kerja dan disiplin, mampu beradaptasi dan memecahkan masalah, memiliki sikap dan karakter positif, toleran dan saling menyayangi, serta memiliki keseimbangan fisik dan mental.

Mewujudkan SDM dengan kualitas tersebut tentu memerlukan sarana yang tepat, dan pendidikan menjadi opsi logis sebagai wadah utama dalam membentuk generasi unggul. Pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana mentransfer ilmu, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan nilai moral. Dalam proses ini, pendidikan berperan sebagai jalan utama untuk mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas dan kesiapan menghadapi tantangan masa depan.

Tantangan Global

Namun, di tengah peran strategis yang diemban, sistem pendidikan sedang berhadapan dengan tantangan yang tidak dapat diabaikan. Salah satunya adalah isu kemanusiaan. Dalam satu dasawarsa belakangan ini, kemanusiaan tengah menjadi isu hangat, baik pada tataran global maupun lokal. Pada tataran global, misalnya, sudah sangat intens muncul ke permukaan isu-isu, seperti perang saudara, konflik antarnegara, diskriminasi, dan lain sebagainya (Teknosional, 2024Tempo, 2024). Demikian juga pada tataran lokal-nasional, Indonesia masih berhadapan langsung dengan kenyataan serupa. Isu-isu seperti intoleransi (Satria, 2017), pencederaan terhadap kebebasan beragama (Mantalean & Santosa, 2024), atau konflik sosial (Wangge, 2023) masih sering muncul.

Dalam beberapa kesempatan, Menteri Agama RI, Nasarudin Umar menyampaikan tantangan global berupa fenomena dehumanisasi. Hal ini ditandai terutama dengan meluasnya kekerasan dan konflik yang sering kali membawa jumlah korban yang mengkhawatirkan. Menag berprinsip bahwa humanity is only one (Rani, 2024; Yaputra, 2024) sehingga peran pemberdayaan umat difokuskan pada basis kemanusiaan dan harmoni kehidupan. Pada konteks ini, agama sering kali diperalat untuk menjadi dalil atas tindak kekerasan yang mengakibatkan penderitaan bagi banyak orang. Padahal, peran agama harus mencakup peningkatan dan pemeliharaan martabat setiap kehidupan manusia. Hal inilah yang menjadi salah satu dasar adanya deklarasi Istiqlal pada akhir tahun 2024.

Fenomena dehumanisasi semacam ini tentu memiliki dampak destruktif bagi individu dan masyarakat. Hal-hal seperti ketakutan, kebencian, dan konflik akan semakin tampak ke permukaan. Oleh karena itu, penting untuk mengatasi fenomena ini dengan mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, seperti empatitoleransi, dan kesetaraan yang kesemuanya berlandaskan pada cinta.

Tantangan Dunia Pendidikan Nasional

Khusus konteks Indonesia, isu-isu tersebut sangat potensial menjadi tantangan besar yang rumit apabila tidak segera dilakukan pencegahan melalui pendekatan komprehensif dan berkelanjutan. Indonesia sangat identik dengan keberagaman yang mencakup aspek agama, budaya, suku, bahasa, sampai pada adat istiadat yang terhampar dari Sabang hingga Merauke. Di satu sisi, keberagaman ini secara afirmatif menjadi kekayaan dan identitas nasional. Namun, di sisi lain, hal ini juga secara negatif dapat memicu konflik jika tidak dikelola dengan baik (Dihni, 2023).

Untuk mengatasi tantangan dan mewujudkan pendidikan yang diharapkan, dibutuhkan solusi yang strategis dan tepat sasaran, salah satunya adalah adanya kurikulum yang relevan, efektif, dan berkualitas. Pada konteks ini, Kurikulum Berbasis Cinta hadir sebagai solusi strategis untuk merespons tantangantantangan tersebut sekaligus berupaya mengatasinya melalui wadah pendidikan. Pendidikan menjadi titik berangkat yang tepat, setidaknya, berlandas pada dua alasan:

Pertama, pendidikan merupakan pilihan lokus yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai sejak dini. Melalui pendidikan, anak-anak dan generasi muda dapat dibentuk menjadi individu yang memahami, menerima, menghargai, serta memberi warna pada keberagaman. Kurikulum Berbasis Cinta merupakan kurikulum yang inklusif yang memberikan kesempatan bagi murid untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang keberagaman. Proses internalisasi nilai-nilai seperti cinta, toleransi, empati, dan keadilan sosial dapat dilakukan secara sistematis dan terstruktur sejak usia dini.

Kedua, di lembaga pendidikan sendiri telah terjadi isu-isu minor yang mengarah pada pencederaan nilai-nilai kemanusiaan. Misalnya, masih ditemukan praktik diskriminasi berbasis identitas di lingkungan sekolah, seperti perundungan serta kekerasan (Wardah, 2024Wibowo, 2024) terhadap murid hingga isu intoleransi (Naufal & Arbi, 2022). Oleh karena itu, Kurikulum Berbasis Cinta hadir untuk merekonstruksi (menata kembali) sistem pendidikan agar mampu melahirkan insan yang humanis, nasionalis, naturalis, toleran, dan selalu mengedepankan cinta sebagai prinsip dasar dalam kehidupan.

Peran Kurikulum Berbasis Cinta

Kurikulum Berbasis Cinta memiliki peluang untuk tidak hanya berorientasi pada penyelesaian masalah-masalah kemanusiaan di tingkat lokal, tetapi juga berkontribusi pada penyelesaian tantangan global. Melalui pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai cinta dan toleransi ke dalam pembelajaran, kurikulum ini menawarkan solusi untuk berbagai konflik sosial, diskriminasi, dan ketidakadilan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Dengan demikian, Kurikulum Berbasis Cinta menjadi sebuah langkah strategis untuk menciptakan dunia yang lebih damai, harmonis, dan berkeadaban yang berada dalam satu kesatuan kerangka utuh berupa sikap saling mencintai antarsatu dengan yang lain.

Di era kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, masih banyak murid yang mengabaikan sains. Mereka melihat sains hanya sebagai mata pelajaran di madrasah, bukan sebagai cara memahami kehidupan dan alam semesta. Kurangnya minat terhadap sains sering kali berakar dari pendekatan pembelajaran yang kaku dan minim relevansi dengan kehidupan nyata. Akibatnya, banyak murid yang hanya menghafal teori tanpa memahami makna mendalam di baliknya.

Dalam Kurikulum Berbasis Cinta, sains tidak hanya dipandang sebagai kumpulan fakta dan rumus, tetapi sebagai jalan menuju kebijaksanaan dan kasih sayang terhadap ciptaan Sang Khaliq. Kurikulum ini hadir untuk mengatasi ketidakpedulian murid terhadap sains dengan menghubungkan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan kebermanfaatan bagi sesama.

Sebagai langkah awal untuk mewujudkan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta di madrasah, perlu disusun sebuah panduan yang menjadi rambu-rambu bagi para pemangku kepentingan dalam melaksanakannya. 

Lebih lengkap terkait Keputusan Dirjen Pendis Nomor 6077 Tahun 2025 tentang Panduan Kurikulum Berbasis Cinta silakan unduh filenya dibawah ini:

Keputusan Dirjen Pendis Nomor 6077 Tahun 2025 tentang Panduan Kurikulum Berbasis Cinta

Monday, April 25, 2022

✔✔✔ KMA Nomor 347 Tahun 2022 Tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Madrasah

MTs Arabic - Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 4 mengamanatkan bahwa Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan diselenggarakan dengan prinsip memberi keteladanan, membangun motivasi, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam pembelajaran.  

Diberlakukannya Keputusan Menteri Agama Nomor 792 Tahun 2018 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Raudhatul Athfal, Keputusan Menteri Agama Nomor 183 Tahun 2019 tentang Kurikulum Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab Pada Madrasah, dan Keputusan Menteri Agama Nomor 184 Tahun 2019 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum pada Madrasah, memberikan ruang pada madrasah untuk melakukan kreasi dan inovasi dalam pengelolaan pendidikan dan pembelajaran. 

Sejalan dengan hal tersebut Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi telah meluncurkan Kurikulum Merdeka yang akan diberlakukan mulai tahun pelajaran 2022/2023. Konsep dari kurikulum merdeka antara lain adanya penyederhanaan kurikulum, memberi ruang kreasi dan fleksibilitas satuan pendidikan dalam pengelolaan pembelajaran. 

Seiring dengan perubahan paradigma pembelajaran abad-21 serta perkembangan dunia yang sangat dinamis dan tidak menentu, maka diperlukan pola baru dalam pengelolaan pendidikan dan pembelajaran pada madrasah. Madrasah harus senantiasa melakukan perubahan dan perbaikan berkelanjutan, berani melakukan inovasi atau terobosan baru, serta memanfaatkan teknologi informasi secara maksimal untuk meningkatkan mutu layanan kepada seluruh warga madrasah. Madrasah harus memiliki otonomi dalam mengelola pendidikan dan kemandirian dalam berkreasi, berinovasi, menciptakan layanan yang humanis, ramah, serta adaptif dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Oleh karena itu Kementerian Agama RI senantiasa mendorong dan memberi ruang yang seluas-luasnya kepada madrasah dalam mengembangkan kurikulum operasional pada tingkat satuan pendidikan, sesuai potensi dan kekhasan madrasah.

Pedoman Implementasi Kurikulum Merdeka pada Madrasah dimaksudkan sebagai panduan Madrasah dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan di madrasah sesuai karakteristik kebutuhan dan pengelolaan pendidikan di Madrasah. 

Pedoman Kurikulum Merdeka pada Madrasah bertujuan untuk memberi kemandirian madrasah dalam mengelola pendidikan dan pembelajaran, untuk meningkatkan kualitas dan daya saing madrasah sesuai dengan tuntutan kompetensi abad-21. 

Sasaran pedoman implementasi kurikulum merdeka pada madrasah  adalah satuan pendidikan dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengelola pendidikan dan pembelajaran di madrasah.

Ruang lingkup pedoman implementasi kurikulum merdeka pada madrasah meliputi: 

1. Standar Kelulusan

2. Standar Isi

3. Struktur Kurikulum

4. Implementasi Kurikulum di Madrasah

5. Pembelajaran dan Asesmen

6. Penguatan Profil Pelajar Pancasila 

7. Kurikulum Operasional Madrasah

8. Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Kurikulum Merdeka di Madrasah

9. Sosialisasi dan Pendampingan Implementasi Kurikulum Merdeka di Madrasah

10. Capaian Pembelajaran

Untuk mempermudah, berikut Daftar Isi KMA Nomor 347 Tahun 2022 Tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Madrasah :

Bab 1 - Pendahuluan Hlm. 5 - 7

Bab 2 - Standar Kompetensi Lulusan Hlm. 8 - 15

Bab 3 - Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab Hlm. 15 - 30

Bab 4 - Struktur Kurikulum Hlm. 30 - 45

Bab 5 - Pembelajaran Di Madrasah Hlm. 45 - 47

Bab 6 - Implementasi Kurikulum Pada Madrasah Hlm. 48 - 49

Bab 7 - Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Pada Madrasah Hlm. 49 - 57

Bab 8 - Kurikulum Operasional Madrasah Hlm. 57

Bab 9 - Sosialisasi dan Pendampingan Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Madrasah Hlm. 57 - 58

Bab 10 - Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Kurikulum Merdeka di Madrasah Hlm. 58 - 59

Bab 11 - Penutup Hlm. 60

Arsip lengkap KMA Nomor 347 Tahun 2022 Tentang Pedoman Implementasi Kurikulum Merdeka Pada Madrasah dapat asatidz unduh di bawah ini :

Wednesday, September 29, 2021

Kegiatan Pembelajaran Kitabah

Pembelajaran Kitabah

Kegiatan Pendahuluan

  1. Siswa diajak untuk mengingat-ingat kembali mufradat yang telah dipelajari sebagai  persiapan pembelajaran qira’ah
  2. Guru meyampaikan tujuan pembelajaran pada saat ini, yaitu membuat kalimat yang  berkaitan dengan tarkib yang telah dipelajari
  3. Guru memberi penjelasan mengenai teknik pembelajaran kitabah yang akan diberikan

Kegiatan Inti

  1. Guru menunjukkan kepada siswa bahwa pembelajaran kitabah ini berkaitan dengan pembelajaran tarkib tentang ...
  2. Siswa disuruh membuat kalimat dengan arahan yang benar berupa contoh kalimat
  3. Guru menunjukkan inti kalimat sesuai tarkib yang diajarkan
  4. Guru memerintahkan siswa menterjemahkan arti kitabah yang telah ditulis

Kegiatan Penutup

  1. Guru memberi penilaian terhadap latihan yang dikerjakan siswa
  2. Guru membenarkan kesalahan-kesalahan siswa dalam membuat kitabah.
  3. Guru menutup pembelajaran.

Kegiatan Pembelajaran Tarkib

Pembelajaran Tarkib

Kegiatan Pendahuluan

  1. Siswa diminta melihat kalimat yang didalamnya terdapat kaidah kebahasaan
  2. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pada saat ini, yaitu ( tulis tarkib sesuai kelas )
  3. Guru menanyakan mengapa bisa terjadi perbedaan.

Kegiatan Inti

  1. Guru mengajak siswa mendiskusikan ( tulis tarkib sesuai kelas )
  2. Guru menjelaskan kepada siswa ( tulis tarkib sesuai kelas )
  3. Guru memerintahkan siswa untuk memperhatikan kalimat yang di dalamnya terdapat kaidah ( tulis tarkib sesuai kelas )
  4. Guru menyampaikan kesimpulan mengenai ( tulis tarkib sesuai kelas )
  5. Guru memberi latihan (tadrib) untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap tarkib yang diajarkan
  6. Guru membuat penilaian terhadap kemampuan penguasaan siswa terhadap materi yang ada

Kegiatan Penutup

  1. Guru memberi kunci jawaban dari tadrib yang diberikan.
  2. Guru menutup pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran Hiwar

Pembelajaran Hiwar ( Percakapan )

Kegiatan Pendahuluan :

  1. Siswa diajak untuk mengingat-ingat kembali mufradat yang telah dipelajari
  2. Guru meyampaikan tujuan pembelajaran pada saat ini, yaitu melakukan percakapan tentang  (tulis bab / sub materi)
  3. Guru memberi penjelasan mengenai tehnik pembelajaran hiwar yang akan diberikan

Kegiatan Inti :

  1. Guru menanyakan siswa tentang (tulis bab / sub materi) dan siswa menjawab sesuai dengan kemampuannya
  2. Guru membenarkan jawaban siswa yang mengalami kesalahan
  3. Guru memberi contoh percakapan tentang (tulis bab / sub materi) disertai dengan penjelasan mengenai arti kata yang masih belum difahami sisawa.
  4. Siswa mempraktekkan hiwar (percakapan) tentang (tulis bab / sub materi)
  5. Guru memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa

Kegiatan Penutup :

  1. Siswa diminta mengerjakan latihan-latihan membuat konsep hiwar secara tertulis
  2. Guru memberi penilaian terhadap latihan yang dikerjakan siswa
  3. Guru memberi kunci jawaban mengenai latihan yang diberikan
  4. Guru menutup pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran Qira'ah

Pembelajaran Qira'ah

Kegiatan Pendahuluan

  1. Siswa diajak untuk mengingat-ingat kembali mufradat yang telah dipelajari sebagai persiapan pembelajaran qira’ah
  2. Guru meyampaikan tujuan pembelajaran pada saat ini, yaitu membaca teks bacaan tentang : ....
  3. Guru memberi penjelasan mengenai tehnik pembelajaran qira’ah yang akan diberikan

Kegiatan Inti

  1. Guru menunjukkan kepada siswa bahwa pembelajaran qira’ah ini berkaitan dengan pembelajaran hiwar, yaitu tentang ...
  2. Guru membacakan teks qira’ah dengan benar dan fasih
  3. Siswa disuruh membaca teks qira’ah dengan benar dan fasih 
  4. Guru dan siswa mendiskusikan kepada siswa mengenai isi yang terkandung dalam teks qira’ah.
  5. Siswa diminta mencari makna mufradat dalam teks qira’ah yang belum diketahui.
  6. Guru menunjukkan arti mufradat yang belum dapat ditemukan siswa
  7. Guru memerintahkan siswa menterjemahkan arti teks bacaan
  8. Guru membenarkan kesalahan-kesalahan siswa dalam mengartikan teks qira’ah.
  9. Guru memberi latihan-latihan untuk menguji kemampuan siswa terhadap penguasaan teks qira’ah

Kegiatan Penutup

  1. Guru memberi penilaian terhadap latihan yang dikerjakan siswa
  2. Guru memberi kunci jawaban mengenai latihan yang diberikan
  3. Guru menutup pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran Mufradat

Pembelajaran Mufradat

Kegiatan Pendahuluan :

  1. Siswa melihat gambar yang berkaitan dengan mufradat, dan guru menanyakan makna yang terdapat pada gambar
  2. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pada saat ini, yaitu mengenalkan mufradat yang berkaitan dengan ( tulis materi pelajaran )
  3. Guru menyuruh siswa melihat mufradat yang ada, kemudian menanyakan mufradat yang telah diketahui

Kegiatan Inti :

  1. Guru mengajak siswa mendiskusikan makna yang terdapat dalam mufradat tentang ( tulis materi pelajaran )
  2. Guru memerintahkan siswa mencari arti mufradat yang belum diketahui dalam kamus atau di buku
  3. Guru memerintahkan siswa menutup buku, kemudian membacakan mufradat dan siswa menirukan
  4. Guru membacakan mufradat dan siswa mengartikan makna mufradat yang dibacakan guru
  5. Guru memerintahkan siswa untuk membaca mufradat dengan tepat beserta maknanya.
  6. Guru memberi latihan (tadrib) untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap mufradat baru
  7. Guru membuat penilaian terhadap kemampuan penguasaan mufradat siswa

Kegiatan Penutup :

  1. Guru memberi kesimpulan terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan
  2. Guru memberikan pesan dan penugasan kepada siswa
  3. Guru menutup pembelajaran mufradat

Monday, September 27, 2021

Strategi dan Model Umum Pembelajaran Bahasa Arab

MTs Arabic - Dalam pembelajaran bahasa Arab hendaknya siswa dikenalkan juga tentang budaya Arab, baik budaya lisan ataupun budaya tulisannya, karenanya dalam pembelajaran bahasa Arab guru diharapkan untuk membimbing siswa dalam mempraktikkannya, sehingga pembelajaran bahasa Arab dapat menghantarkan siswa sebagaimana orang Arab berbahasa.

Pada tulisan ini, saya akan share strategi dan model umum pembelajaran bahasa Arab yang bersumber dari buku guru Bahasa Arab yang dikeluarkan Dirjen Pendis Tahun 2014. Meskipun saat ini referensi yang dipakai pada pembelajaran Bahasa Arab adalah KMA No. 183 dan 184, tetapi dalam hal strategi dan model pembelajaran, buku guru tadi dapat dijadikan referensi untuk melengkapi administrasi guru terutama pada teknis pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran ( RPP).

Sebelum secara rinci proses pembelajaran dijelaskan, terlebih dahulu dikemukakan dua proses pendekatan pembelajaran bahasa Arab yang saling berkaitan dan memantapkan, yakni proses pembelajaran dengan pendekatan saintifik dan pendekatan keterampilan.

Pendekatan Saintifik

1. Mengamati

a. Siswa membaca/menonton/mendengarkan contoh-contoh teks yang sedang dipelajari, langsung dan/atau rekaman dengan memperhatikan fungsi sosial struktur teks, unsur kebahasaan, maupun format penyampaian/penulisannya.

b. Siswa menirukan/menyalin/menelaah dari contoh-contoh secara terbimbing.

2. Mempertanyakan

a. Dengan pertanyaan pengarah dari guru, siswa mempertanyakan fungsi sosial, ungkapan dan struktur teks, unsur kebahasaan, serta format penulisan yang digunakan dalam teks yang sedang dipelajari.

b. Siswa memperoleh pengetahuan tambahan tentang fungsi sosial, ungkapan dan struktur teks, unsur kebahasaan.

3. Bereksplorasi/bereksperimen

Membaca/mendengar/menonton contoh-contoh lain dari teks yang dipelajari baik dari buku teks, buku panduan atau sumber lain dengan memperhatikan fungsi sosial, ungkapan dan struktur teks, unsur kebahasaan serta format penulisan dari jenis teks yang sedang dipelajari.

4. Mengasosiasi/menganalisis

a. Dalam kerja kelompok terbimbing, siswa mempelajari teks untuk dapat menyebutkan fungsi sosial, ungkapan dan struktur teks, unsur kebahasaan serta format penulisan dari jenis teks yang sedang dipelajari.

b. Siswa memperoleh “balikan” (feedback) dari guru dan teman tentang setiap yang dia sampaikan dalam kerja kelompok.

5. Berkomunikasi

a. Siswa membaca / menyimak / mempresentasikan / memperagakan / mempublikasikan / berbicara / membacakan teks-teks yang dipelajari.

b. Siswa memperoleh feedback dari guru dan teman tentang karya yang dihasilkan/pesan yang ditangkap dan disampaikan.

c. Siswa mengungkapkan hal-hal yang sulit dan mudah dipelajari dan strategi yang sudah dan atau akan dilakukan untuk mengatasinya.

Pendekatan Keterampilan

A. Keterampilan Menyimak

Siswa mengamati dengan cara memperhatikan gambar yang terdapat di awal buku pelajaran sebelum materi mufradat, kemudian mengamati bunyi huruf, frasa dan kalimat yang diperdengarkan secara langsung atau melalui rekaman dengan memperhatikan fungsi budaya, struktur kalimat, unsur bahasa dan format penyampaian/penulisannya.

Pembelajaran Kosa Kata ( اَلْمُفْرَدَاتُ وَ الْعِبَارَاتُ )

a. Guru meminta siswa untuk membuka buku pelajaran

Guru membaca mufradat ungkapan demi ungkapan dan siswa semua mendengarkannya sambil melihat materi pelajaran.

b. Menyimak dan pengulangan klasikal

Guru berisyarat dengan tangan atau mengatakan “جَمِيْعًا”, maka semua siswa mengulangi bacaan guru. Demikian selanjutnya, semua siswa mengulangi mufradat demi mufradat yang dibacakan guru sampai dengan mufradat terakhir.

c. Membaca nyaring individu

Guru meminta beberapa orang siswa satu persatu, dengan mengatakan kepada siswa pertama أَنْتَ يَا ...، اِقْرَأْ هٰذِهِ الْمُفْرَدَاتِ, untuk membaca mufradat, selanjutnya kepada siswa yang lain. Setiap siswa membaca sebagian mufradat atau semuanya.

d. Penjelasan makna

Guru menjelaskan makna tiap mufradat dengan teknik (uslub) yang sesuai, umpamanya dengan sampel, konteks, teknik tanya jawab dan isyarat (menunjuk). Untuk memastikan pemahaman siswa, dapat digunakan terjemah.

Dengan proses pembelajaran di atas, diharapkan siswa akan banyak bertanya tentang apa yang mereka dengar, baik berkaitan dengan wujud konkrit suatu benda atau peragaannya seperti apa serta bagaimana bentuk tulisannya yang benar.

Model-model latihan untuk kosa kata ( تَدْرِيْبَاتٌ عَلَى الْمُفْرَدَاتِ ) dan pelaksanaannya.

1. صِلْ بَيْنَ الْعِبَارَاتِ الْآتِيَةِ وَ بَيْنَ الْكَلِمَاتِ مِنَ الصُّنْدُوْقِ

1. Semua siswa membaca materi kolom pertama, lalu kolom kedua dalam hati

2. Guru menunjuk dua orang siswa, yang pertama membaca (nyaring) materi kolom pertama dan yang lain membaca materi kolom kedua

3. Guru membaca ungkapan (1) pada kolom pertama, yaitu (...). lalu menunjuk seorang siswa untuk menyebutkan ungkapan pasangannya pada kolom kedua. Demikian selanjutnya hingga selesai.

2. صِلْ بَيْنَ الْعِبَارَاتِ الْمُتَنَاسِبَة !

1. Guru menjelaskan contoh mengerjakan tadrib (…), yaitu (…) dan pasangannya pada kolom kedua, yaitu (…)

2. Semua siswa membaca materi kolom pertama, lalu kolom kedua dalam hati

3. Guru menunjuk dua orang siswa, yang pertama membaca (nyaring) materi kolom pretama dan yang lain membaca mateir kolom kedua;

4. Guru membaca kalimat (2) pada kolom pertama, yaitu (...)

5. Guru menunjuk seorang siswa untuk menyebutkan ungkapan pasangan kalimat (2) tersebut pada kolom kedua. Jika jawabannya salah, kesempatan diberikan pada siswa lainnya. Jika tak ada seorangpun yang mampu, guru memberikan jawaban yang benar. Seorang siswa dapat diminta untuk mengerjakan lebih dari satu nomor.

6. Tadrib nomor berkutnya dilakukan seperti pada langkah (5) tersebut hingga selesai.

3. اِخْتَرْ كَلِمَةً مًنَاسِبَةً مِنَ الْكَلِمَاتِ بَيْنَ الْقَوْسَيْنِ !

4. اِخْتَر أَنْسَبَ الْكَلِمَاتِ فِيْمَا بَيْنَ الْقَوْسَيْنِ !

1. Guru menjelaskan contoh mengerjakan tadrib

2. Siswa diberi kesempatan untuk membaca dalam hati sambil mencoba mencocokan kata dengan kalimat yang sesuai.

3. Guru menunjuk seorang siswa untuk membaca tadrib dan mencocokan kalimat dengan kata yang sesuai. Jika jawaban salah, kesempatan diberikan pada siswa lainnya.

4. Demikian seterusnya sampai dengan jumlah terakhir, dengan catatan seorang siswa dapat diminta untuk menjawab lebih dari satu nomor.

5. اِمْلَأِ الْفَرَاغَ بِالْكَلِمَةِ الْمُنَاسِبَةِ الْآتِيَةِ !

1. Guru menjelaskan contoh mengerjakan tadrib

2. Siswa diberi kesempatan untuk membaca dalam hati sambil mencoba mencocokkan kata dengan kalimat yang sesuai.

3. Guru menunjuk seorang siswa untuk membaca tadrib dan mencocokan kalimat dengan kata yang sesuai. Jika jawaban salah, kesempatan diberikan pada siswa lainnya.

4. Demikian seterusnya sampai dengan jumlah terakhir, dengan catatan seorang siswa dapat diminta untuk menjawab lebih dari satu nomor.

B. Keterampilan Menyimak dan Berbicara ( اَلْحِوَارُ )

1. Menyimak tanpa melihat buku

Guru meminta siswa untuk menutup buku pelajaran.

Guru membaca materi hiwar atau memutar rekaman, dan semua siswa mendengarkannya dengan penuh perhatian. Kegiatan ini dapat dilakukan lebih dari satu kali.

2. Menyimak sambil melihat buku

Guru meminta siswa untuk membuka buku pelajaran.

Guru membaca materi hiwar atau memutar rekaman, dan siswa semua mendengarkannya sambil melihat materi pelajaran

3. Menyimak dan pengulangan secara klasikal

Guru membaca hiwar ungkapan pertama, lalu berisyarat dengan tangan atau mengatakan “جَمِيْعًا”, maka semua siswa mengulangi bacaan guru. Demikian selanjutnya, semua siswa mengulangi ungkapan demi ungkapan yang dibacakan guru sampai dengan ungkapan terakhir. Pengulangan dapat dilakukan dua kali.

4. Menyimak dan pengulangan secara kelompok dan atau individu

Guru membaca teks ungkapan demi ungkapan, seperti langkah 3 dan diikuti siswa perkelompok (setelah kelas dibagi menjadi beberapa kelompok, tiap kelompok sebaiknya diberi nama kelompok). Bila masih ada waktu, guru meminta beberapa orang siswa satu persatu, dengan mengatakan “وَ الْآنَ أَنْتَ”, untuk mengulangi ungkapan-ungkapan itu, sebagian atau semuanya.

5. Membaca nyaring secara klasikal dan kelompok

Guru meminta kelompok secara berpasangan membaca tanya jawab dalam hiwar, tanpa diberi contoh terlebih dahulu oleh guru. Masing-masing kelompok memerankan satu peran.

Model-model latihan ( تَدْرِيْبَاتٌ ) materi percakapan ( اَلْحِوَارُ ) di antaranya sebagai berikut :

1. تَبَادَلِ الْأَسْئِلَةَ وَ الْآَجْوِبَةَ كَمَا فِي الْمِثَالِ !

2. تَبَادَلِ الْأَسْئِلَةَ وَ الْأَجْوِبَةَ عِنْ ... مَعَ صَدِيْقِكَ !

1. Pengulangan Kelompok

Guru mengucapkan ( اِسْمُكَ / أَحْمَد ), kelompok pertama mengucapkan : مَا اسْمُكَ ؟

Kelompok kedua disertai guru mengucapkan : اِسْمِيْ أحْمَد

Sebagai model, tanya jawab seperti ini dilakukan lebih dari satu kali.

2. Pengulangan Individu

Kegiatan tanya jawab seperti dapat dilakukan antara dua orang siswa

3. Kegiatan langkah pertama dan kedua dilakukan untuk materi tadrib berikutnya, dan peranan guru dapat diganti oleh siswa yang pandai

3. أَجْرِ الْحِوَارَ مَعَا صَدِيْقِكَ كَمَا يَلِي !

+ هَلْ أَنْتَ طَالِبٌ ؟

- نَعَمْ، أنَا طَالِبٌ

1. Guru meminta dua orang siswa yang satu bangku berhadap-hadapan untuk bergantian bertanya, boleh jawabannya sesuai naskah, boleh juga sesuai keinginan

2. Jika mereka sudah merasa mantap dengan jawabannya, guru meminta perwakilan dari mereka secara acak maju ke depan untuk bergantian bertanya dan menjawab.

3. Siswa yang duduk memperhatikan untuk memberikan penilaian

4. Guru memperhatikan semu asiswa sesuai perannya

5. Guru menyuruh siswa yang dapat menjawab untuk duduk, sementara bagi siswa yang tidak dapat menjawab dengna benar disuruh berdiri untuk diberikan kesempatan belajar kemballi sambil berdiri agar lebih seruis dan sungguh-sungguh

C. Keterampilan Membaca ( اَلْقِرَاءَة )

1. Menyimak tanpa melihat buku

Guru meminta siswa untuk menutup buku pelajaran.

Guru membaca teks qiro’ah atau memutar rekaman, dan semua siswa mendengarkannya dengan penuh perhatian. Kegiatan ini dapat dilakukan lebih dari satu kali

2. Menyimak sambil melihat buku

Guru meminta siswa untuk membuka buku pelajaran.

Guru membaca materi teks qiro’ah atau memutar rekaman, dan siswa semua mendengarkannya sambil melihat materi pelajaran.

3. Menyimak dan pengulangan secara klasikal

Guru membaca teks qiro’ah ungkapan pertama, lalu berisyarat dengan tangan atau mengatakan “جَمِيْعًا”, maka semua siswa mengulangi bacaan guru. Demikian selanjutnya, semua siswa mengulangi bacaan guru. Demikian selanjutnya, semua siswa mengulangi ungkapan demi ungkapan yang dibacakan guru sampai dengan ungkapan terakhir. Pengulangan dapat dilakukan dua kali.

4. Menyimak dan pengulangan secara kelompok dan atau individu

Guru membaca teks qiro’ah, ungkapan demi ungkapan, seperti langkah 3 dan diikuti siswa perkelompok ( setelah kelas dibagi menjadi beberapa kelompok, tiap kelompok sebaiknya diberi nama kelompok ). Bila masih ada waktu, guru meminta beberapa orang siswa satu persatu, dengan mengatakan : وَ الْآن أَنْتَ, untuk mengulangi ungkapan-ungkapan itu, sebagian atau seluruh teks qiro’ah.

5. Siswa semuanya diminta membaca teks qiro’ah dalam hati, untuk memahami makna bacaan, sebagai pembekalan untuk menjawab latihan qiro’ah (تَدْرِيْبَاتُ غَلَى الْقِرَاءَةِ). Karena itu pastikan tugas membaca ini dilaksanakan oleh siswa dengan serius dan sungguh-sungguh.

Siswa melalui kegiatan mendengar, membaca dan memahami teks yang dipelajari,  diharapkan mampu mengeksplorasi dengan membaca teks lain dari berbagai sumber yang tingkat kesulitannya sebanding baik dari segi ungkapan, struktur kalimat, unsur kebahasaan serta format penulisannya. Di samping itu siswa dapat mengambil pelajaran dari teks qira’ah yang dipelajarinya. Dengan demikian siswa akan lebih mantap dalam kemampuan membaca dan menerjemahnya serta dapat mengamalkannya dalam kehidupan.

Model-model latihan (تَدْرِيْبَاتُ) materi membaca (الْقِرَاءَةِ) diantaranya sebagai berikut :

1. قُلْ صَحِيْحٌ (ص) أَوْ خَطَأ (خ) وَ صَحِّحِ الْخَطَأ !

1. Guru menjelaskan dengan singkat cara menjawab tadrib

2. Guru meminta seorang siswa untuk membaca ungkapan tadrib, lalu mengatakan (صَحِيْحٌ). Jika makna ungkapan sesuai dengan yang terkandung dalam nash qiro’ah, atau mengatakan (خَطَأ), bila tidak sesuai dengan makna dalam nash qiro’ah, lalu mengucapkan ungkapan pembetulan.

3. Bila jawaban siswa tersebut salah, maka kesempatan menjawab diberikan kepada siswa lain.

4. Jika tidak ada siswa yang dapat memberikan jawaban yang benar, maka jawaban diberikan oleh guru sendiri, dengan mengajak mereka untuk kembali memmahami ungkapan yang terkait pada nash qiro’ah.

Kegiatan dilanjutkan dengan cara seperti di atas, sampai tadrib terakhir.

2. أَجِبْ عَنِ الْأَسْئِلَةِ الْأتِيَةِ !

1. Guru membacakan pertanyaan lebih dari satu kali.

2. Seorang siswa diminta untuk menjawab pertanyaan.

3. Jika jawabannya salah atau kurang tepat, siswa lain diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan

4. Jika jawaban siswa kedua salah, maka dapat diberikan kesempatan kepada siswa ketiga.

5. Jika jawaban siswa ketiga masih salah, maka dijawab oleh guru, jika perlu disertai penjelasan singkat.

6. Kegiatan dilanjutkan dengan cara tersebut, sampai pertanyaan terakhir.

3. اِقْرَأْ !

1. Semua siswa diberi kesempatan untuk membaca nash qira’ah tadrib ini dalam hati

2. Guru meminta beberapa orang siswa, satu persatu membaca paragraf ini, dengan harakat yang lengkap, kecuali pada  di akhir kalimat, diperhatikan pula panjang pendek dan intonasi.

D. Keterampilan Menulis ( اَلْكِتَابَةُ )

1. Guru menjelaskan cara mengerjakan latihan

2. Guru mengoreksi hasil pekerjaan siswa. Koreksi dapat dilakukan oleh mereka  sendiri (sebaiknya bukan oleh teman satu bangku) atau langsung oleh guru.

3. Guru mencatat kesalahan hasil koreksi, untuk mengetahui kesalahan perorangan dan  kesalahan umum yang diperbuat oleh kebanyakan atau siswa yang bersangkutan, dan kesalahan umum dijelaskan kepada semua siswa.

Kegiatan kitabah selesai, setelah diketahui kemudian dicatat sebagai nilai latihan, dan setelah mereka menyalin kembali materi latihan tanpa kesalahan (dengan memperhatikan hasil koreksi).

Untuk menghemat waktu tatap muka di kelas, kitabah dapat dilakukan di rumah (PR), dan tidak harus menunggu sampai selesai kegiatan qira’ah, sebab terdapat latihan kitabah yang dapat dikerjakan setelah belajar tarkib. Jika masih diperlukan, kegiatan أِمْلَاء dilakukakan dari اِمْلَاء atau langsung اِحْتِبَارِيٌّ, (dikte tanpa diperlihatkan dahulu materinya), Materi dipilih dari materi qira’ah atau hiwar.

Model-model latihan ( تَدْرِيْبَاتٌ ) materi menulis ( الْكِتَابَة ) di antaranya sebagai berikut:

1. رَتِّبِ الْعِبَارَاتِ الْآتِيَةِ اِبْتِدَاءٌ مِنَ الْعِبَارَاتِ الْمُلَوَّنَةِ لِتُصْبِحَ فِقْرَةً مُفِيْدَةً !

1. Guru meminta siswa untuk membaca dalam hati (tadrib) sambil berusaha untuk menyusun jawaban kalimat dengan tepat dimulai dari kata yang berwarna.

2. Guru meminta siswa untuk menulis jawaban tersebut dalam buku latihan masing-masing siswa. Atau dijadikan tugas di rumah (PR).

2. أَجِبْ لِتُصْبِحَ الْلأَجْوِبَةَ فِقْرَةً كَامِلَةً !

1. Guru meminta siswa menulis pertanyaan (tadrib) dari jawaban yang sudah ada pada buku. Latihan ini dikerjakan di buku latihan masing-masing.

2. Guru mengoreksi hasil pekerjaan siswa. Koreksi dapat dilakukan oleh mereka sendiri (sebaiknya bukan oleh teman satu bangku) atau langsung oleh dikoreksi guru.

3. Guru mencatat kesalahan hasil koreksi, untuk mengetahui kesalahan perorangan dan kesalahan umum yang diperbuat oleh kebanyakan atau siswa yang bersangkutan, dan kesalahan umum dijelaskan kepada semua siswa.

Kegiatan latihan kitabah selesai, setelah diketahui kemudian dicatat sebagai nilai latihan, dan setelah mereka menyalin kembali materi latihan tanpa kesalahan (dengan memperhatikan hasil koreksi). Jika waktu tidak mencukupi, latihan ini dapat dijadikan (PR).

E. Struktur ( اَلتَّرْكِيْبُ )

1. Guru menjelaskan struktur/susunan kalimat sebagaimana terdapat dalam buku pelajaran, sebaiknya materi ini ditulis di papan tulis atau ditampilkan di layar. Pada proses pembelajaran ini tanya jawab merupakan salah satu cara yang perlu digunakan, pada umumnya berdasarkan metode induktif. ( اَلْإِسْتِقْرَائِيَّة )

2. Guru menjelaskan bagaimana siswa menjawab latihan yang disediakan. Materi tarkib dan materi latihan pada langkah pertama juga diucapkan dengan waqaf.

Model-model latihan (تَدْرِيْبَاتٌ) materi struktur (اَلتَّرْكِيْبُ) di antaranya sebagai berikut :

1. اِخْتَرِ الْمُنَاسِبَةِ مِمَّا بَيْنَ الْقَوْسَيْنِ !

1. Guru menjelaskan cara mengerjakan tadrib

2. Siswa diberi kesempatan untuk membaca (dalam hati) tadrib sambil mencoba  memilih jawaban yang terdapat dalam kurung yang sesuai dengan kalimat.

3. Guru menunjuk seorang siswa untuk membaca tadrib dan memilih kata yang sesuai dengan kalimat. Jika jawaban salah, kesempatan diberikan pada siswa lainnya.

4. Demikian seterusnya sampai dengan jumlah terakhir, dengan catatan seorang siswa dapat diminta untuk menjawab lebih dari satu nomor.

2. اِمْلَأِ الْفَرَاغَ بِكَلِمَةٍ مُنَاسِبَةٍ !

1. Guru menjelaskan cara mengerjakan tadrib

2. Siswa diberi kesempatan untuk membaca (dalam hati) tadrib sambil mencoba  memilih  yang sesuai untuk melengkapi kalimat.

3. Guru menunjuk seorang siswa untuk membaca tadrib dan memilih  yang sesuai  untuk melengkapi kalimat. Jika jawaban salah, kesempatan diberikan pada siswa lainnya.

4. Demikian seterusnya sampai dengan jumlah terakhir, dengan catatan seorang siswa dapat diminta untuk menjawab lebih dari satu nomor.

Demikian tulisan singkat ini dibuat. Silahkan dipahami setiap maharahnya, dan dapat dicantumkan pada rencana pelaksaan pembelajaran. Semoga membantu.

Salam Admin,

MTs Arabic

Website ini dilindungi oleh :

Followers

Fanspage MTs Arabic

Pengunjung MTs Arabic

Live Pengunjung

Arsip MTs Arabic

Label

AKG Bahasa Arab AKM AKSI Analisis Alokasi Waktu Analisis SKL-KI-KD MTs Arsip ATP Bahasa Arab MTs Arsip Bimtek Arsip Buku Kerja Guru Arsip ITHLA Arsip Kurikulum Arsip Kurikulum Darurat Arsip Literasi Digital MTs Arsip MGMP Arsip P3K Kemenag Arsip Pelatihan Arsip Piagam MTs Arabic Arsip PPG Arsip Rapot Arsip Soal Arsip Soal Google Form Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 7 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 7 Bab 1 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 7 Bab 2 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 7 Bab 3 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 7 Bab 4 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 7 Bab 5 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 7 Bab 6 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 8 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 8 Bab 1 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 8 Bab 2 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 8 Bab 3 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 8 Bab 4 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 8 Bab 5 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 8 Bab 6 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 9 Arsip Surat Arsip TP Bahasa Arab MTs Arsip Webinar ASAT Asesmen Madrasah Bab 1 Bab 2 Bab 3 Bab 4 Bab 5 Bab 6 Bahasa Arab Bahasa Arab MTs Buku Kerja Guru 1 Buku Kerja Guru 2 Buku Kerja Guru 3 Buku Kerja Guru 4 Buku Pegangan Guru dan Siswa ClassPoint Computational Thinking CP Bahasa Arab MTs CPNS Daftar Hadir Daftar Nilai Daya Serap Siswa Deep Learning Download E-Learning Bahasa Arab MTs E-Modul Bahasa Arab Evaluasi Diri Kerja Guru Fase D Hari Guru Nasional Ikrar Guru Indonesia Ilmu Nahwu Ilmu Sharaf Indikator Soal Bahasa Arab MTs Indonesia Website Awards 2021 Info Madrasah IPK Jadwal Mengajar Guru Jurnal Agenda Guru Kaldik Madrasah KBC Kegiatan Pembelajaran Bahasa Arab Kelas 7 Kelas 8 Kelas 9 KGE KI-KD Bahasa Arab MTs Kisah Cerita Anak Bahasa Arab Kisi-kisi Soal KKM Bahasa Arab MTs KMA 1503 Tahun 2025 KMA 183 Tahun 2019 KMA 347 Tahun 2022 Kode Etik Guru Kokurikuler Kumpulan Soal Kurikulum Berbasis Cinta Kurikulum Madrasah Kurikulum Merdeka Kurikulum Merdeka MTs Literasi MATERI BAB 1 MATERI BAB 2 MATERI BAB 3 MATERI BAB 4 MATERI BAB 5 MATERI BAB 6 Materi Bahasa Arab MTs Media Pembelajaran Metode Pembelajaran Modul 1 Modul 2 Modul 3 Modul 4 Modul 5 Modul 6 Modul Ajar Modul Bahasa Arab Modul Bahasa Arab P3K Modul Pedagogik Modul Pedagogik P3K Modul Profesional PPG Motivasi Nahwu Wadhih Naskah Akademik Olimpiade Bahasa Arab Panduan Kokurikuler Panduan Kurikulum Madrasah Panduan Pembelajaran dan Asesmen Pelatihan Dugi Academy Pembelajaran Mendalam Pembiasaan Guru Madrasah Penilaian Akhir Semester Penilaian Akhir Semester Kelas 7 Penilaian Akhir Semester Kelas 8 Penilaian Akhir Semester Kelas 9 Penilaian Akhir Tahun Penilaian Harian Penilaian Tengah Semester Perangkat Pembelajaran Perbaikan Soal PPPK Program Semester Program Tahunan Quizizz Regulasi Remedial dan Pengayaan RPP 1 Lembar SEMESTER 1 SEMESTER 2 Silabus Bahasa Arab MTs Soal AKG Soal AKM Bahasa Arab Soal Penilaian Tengah Semester Kelas 7 Soal Penilaian Tengah Semester Kelas 8 Soal Penilaian Tengah Semester Kelas 9 Tata Tertib Guru Tindak Lanjut Kerja Guru Tujuan Pembelajaran Tutorial Ujian Madrasah Wayground Wayground Arabic Wayground PAI Bahasa Arab