Indonesia Website Awards

Tuesday, January 20, 2026

Contoh Kasus Computational Thinking pada Mata Pelajaran Bahasa Arab

MTs Arabic - Setiap hari, tanpa kita sadari, kita selalu berhadapan dengan masalah dan pilihan. Mulai dari hal sederhana seperti mengatur waktu berangkat sekolah agar tidak terlambat, sampai persoalan yang lebih kompleks seperti menyelesaikan tugas kelompok atau mengambil keputusan penting. Dalam proses itu, sebenarnya kita sedang menggunakan cara berpikir yang terstruktur dan logis. Cara berpikir inilah yang dikenal sebagai Computational Thinking.

Computational Thinking, atau berpikir komputasional, bukanlah konsep yang hanya milik dunia komputer dan teknologi. Ia adalah cara berpikir manusia untuk memahami masalah, menyederhanakannya, lalu menyusun solusi secara runtut dan masuk akal. Dalam pendidikan, kemampuan ini menjadi sangat penting karena membantu peserta didik tidak hanya mengetahui jawaban, tetapi memahami proses bagaimana sebuah jawaban diperoleh.

Dalam konteks pendidikan, Computational Thinking berperan sebagai fondasi cara berpikir. Pendidikan modern tidak lagi cukup jika hanya menekankan hafalan dan penguasaan materi. Siswa perlu dibekali kemampuan untuk menganalisis situasi, melihat keterkaitan antar masalah, dan mengambil keputusan yang tepat. Berpikir komputasional membantu siswa menghadapi persoalan dengan lebih tenang karena mereka terbiasa menyusun langkah, bukan sekadar bereaksi secara spontan.

Salah satu ciri utama Computational Thinking adalah kebiasaan memecah masalah besar menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Dalam dunia pendidikan, hal ini terlihat ketika siswa menghadapi proyek atau tugas besar. Tugas tersebut tidak langsung diselesaikan sekaligus, melainkan dibagi menjadi beberapa tahap agar lebih mudah dikelola. Cara berpikir seperti ini membuat siswa lebih terorganisir dan tidak mudah merasa kewalahan.

Selain itu, berpikir komputasional juga melibatkan kemampuan mengenali pola. Dalam proses belajar, siswa sering menemukan kesamaan antara satu materi dengan materi lain. Misalnya, pola penyebab dan akibat dalam pelajaran IPS, atau pola langkah penyelesaian soal dalam matematika. Dengan mengenali pola, siswa lebih cepat memahami materi baru karena mereka dapat mengaitkannya dengan pengalaman sebelumnya.

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah kemampuan menyaring informasi atau melakukan abstraksi. Di era informasi yang melimpah, siswa sering dihadapkan pada banyak data dan penjelasan sekaligus. Berpikir komputasional membantu mereka fokus pada inti persoalan dan mengabaikan detail yang tidak relevan. Dengan begitu, proses berpikir menjadi lebih jernih dan terarah.

Computational Thinking juga berkaitan erat dengan kebiasaan menyusun langkah secara berurutan. Dalam pembelajaran, hal ini terlihat ketika siswa diminta menjelaskan proses atau prosedur, seperti langkah melakukan percobaan, menulis laporan, atau menyusun argumen. Urutan yang jelas menunjukkan bahwa siswa memahami hubungan sebab-akibat dan tidak sekadar menebak hasil akhir.

Pentingnya Computational Thinking dalam pendidikan semakin terasa ketika dunia terus berubah dengan cepat. Tantangan yang dihadapi generasi saat ini tidak selalu memiliki jawaban tunggal. Banyak persoalan membutuhkan pemikiran yang fleksibel, logis, dan kreatif sekaligus. Berpikir komputasional membantu siswa mengembangkan ketiganya secara seimbang.

Di sisi lain, Computational Thinking juga mendorong kemandirian belajar. Siswa yang terbiasa berpikir sistematis cenderung lebih percaya diri dalam menyelesaikan tugas. Mereka tidak mudah menyerah karena tahu bahwa setiap masalah bisa dihadapi dengan memecahnya menjadi langkah-langkah kecil. Kebiasaan ini sangat berguna, tidak hanya di sekolah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan yang mengintegrasikan Computational Thinking juga membantu membentuk karakter siswa yang reflektif. Mereka terbiasa mengevaluasi proses yang telah dilakukan: langkah mana yang berhasil, mana yang perlu diperbaiki, dan apa yang bisa dilakukan dengan lebih baik ke depan. Proses refleksi ini membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Secara keseluruhan, Computational Thinking bukanlah mata pelajaran baru, melainkan cara baru dalam memandang proses belajar. Ia mengajarkan bahwa belajar bukan hanya tentang mengumpulkan pengetahuan, tetapi tentang melatih cara berpikir agar lebih terstruktur, logis, dan efektif. Dengan membiasakan berpikir komputasional, pendidikan tidak hanya mencetak siswa yang pintar secara akademik, tetapi juga individu yang siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Dalam dunia pendidikan, Computational Thinking dapat dipahami sebagai cara berpikir terstruktur yang membantu siswa dan pendidik menghadapi berbagai persoalan pembelajaran secara lebih sistematis. Cara berpikir ini tidak berdiri sendiri, melainkan tersusun dari empat komponen utama yang saling berkaitan: Decomposition, Pattern Recognition, Abstraction, dan Algorithmic Thinking. Keempat komponen ini sebenarnya sangat dekat dengan aktivitas belajar sehari-hari di sekolah.

Komponen pertama adalah Decomposition (Pemecahan Masalah). Dalam konteks pendidikan, siswa sering dihadapkan pada tugas atau masalah yang tampak besar dan rumit. Tanpa strategi yang tepat, tugas tersebut bisa terasa berat dan membingungkan. Decomposition membantu siswa memandang masalah secara lebih sederhana dengan memecahnya menjadi bagian-bagian kecil. Misalnya, ketika siswa diminta mengerjakan proyek kelompok, mereka tidak langsung mengerjakan semuanya sekaligus, tetapi membaginya menjadi beberapa bagian seperti pengumpulan data, penyusunan konsep, penulisan laporan, dan presentasi. Dengan cara ini, proses belajar menjadi lebih terarah dan mudah dikendalikan. Pemecahan masalah semacam ini juga melatih siswa untuk berpikir terstruktur dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan akademik.

Komponen kedua adalah Pattern Recognition (Pengenalan Pola). Dalam proses pembelajaran, siswa sering menemukan kesamaan antara satu materi dengan materi lainnya. Pengenalan pola membantu mereka memahami bahwa banyak masalah memiliki struktur yang mirip, meskipun tampak berbeda di permukaan. Contohnya, dalam pelajaran matematika, siswa mulai menyadari bahwa langkah penyelesaian soal tertentu memiliki pola yang berulang. Dalam pelajaran bahasa, siswa mengenali pola kalimat atau struktur teks. Dengan kemampuan mengenali pola, siswa dapat memprediksi langkah selanjutnya dan menyelesaikan masalah dengan lebih cepat dan efisien. Pengenalan pola juga membuat proses belajar terasa lebih bermakna karena siswa tidak memulai dari nol setiap kali menghadapi materi baru.

Komponen ketiga adalah Abstraction (Abstraksi). Abstraksi berperan penting dalam membantu siswa menyaring informasi yang relevan dari berbagai detail yang tidak diperlukan. Di lingkungan belajar, sering kali siswa dihadapkan pada teks panjang, data yang banyak, atau penjelasan yang kompleks. Abstraksi mengajarkan mereka untuk fokus pada inti persoalan dan mengabaikan informasi yang tidak mendukung tujuan pembelajaran. Misalnya, ketika membaca sebuah teks bacaan, siswa tidak harus mengingat setiap detail, tetapi memahami gagasan utama dan pesan penting yang ingin disampaikan. Dengan kemampuan abstraksi, siswa menjadi lebih kritis dan tidak mudah terdistraksi oleh informasi yang berlebihan.

Komponen keempat adalah Algorithmic Thinking (Berpikir Algoritmik). Dalam pendidikan, berpikir algoritmik tampak dalam kebiasaan menyusun langkah-langkah kerja secara runtut dan logis. Ketika siswa melakukan percobaan di laboratorium, menulis laporan, atau menyelesaikan soal cerita, mereka mengikuti urutan langkah tertentu agar hasil yang diperoleh sesuai dengan tujuan. Berpikir algoritmik membantu siswa memahami bahwa urutan sangat memengaruhi hasil. Jika satu langkah dilewati atau diubah, maka hasil akhirnya pun bisa berbeda. Kebiasaan ini melatih siswa untuk berpikir sebab-akibat dan bertanggung jawab terhadap proses yang mereka jalani.

Keempat komponen tersebut saling melengkapi dalam membentuk cara berpikir komputasional yang utuh. Decomposition membantu siswa memulai dengan memecah masalah, Pattern Recognition memudahkan mereka mengenali keteraturan, Abstraction menuntun mereka fokus pada hal yang penting, dan Algorithmic Thinking memastikan solusi disusun secara logis dan sistematis. Dalam pendidikan, penerapan keempat komponen ini membantu siswa tidak hanya memahami materi pelajaran, tetapi juga mengembangkan cara berpikir yang efektif untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Dengan mengintegrasikan keempat komponen Computational Thinking dalam proses pembelajaran, pendidikan tidak lagi sekadar menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membentuk kebiasaan berpikir yang terstruktur, reflektif, dan adaptif. Inilah bekal penting bagi siswa untuk tumbuh menjadi individu yang mampu memecahkan masalah secara rasional dan kreatif, baik di lingkungan sekolah maupun di luar kelas.

Dalam pembelajaran Bahasa Arab, siswa sering menghadapi kesulitan saat diminta memahami teks bacaan (qirā’ah) dan menyusun kalimat atau paragraf sederhana. Banyak siswa merasa Bahasa Arab sulit karena harus berhadapan dengan kosa kata baru, struktur kalimat, dan kaidah nahwu–sharaf secara bersamaan. Pada titik inilah Computational Thinking dapat membantu proses belajar menjadi lebih terstruktur dan tidak menakutkan.

Kasus yang sering terjadi di kelas adalah ketika guru memberikan sebuah teks qirā’ah bertema kehidupan sehari-hari, lalu meminta siswa memahami isi teks dan menjawab pertanyaan. Jika siswa langsung membaca teks secara utuh tanpa strategi, mereka cenderung bingung dan kehilangan makna. Dengan pendekatan Computational Thinking, proses memahami teks Bahasa Arab dapat dijalani secara bertahap dan logis.

Langkah pertama yang dilakukan siswa adalah Decomposition (Pemecahan Masalah). Teks bacaan yang panjang tidak dipahami sekaligus, tetapi dipecah menjadi bagian-bagian kecil. Siswa mulai dengan mengidentifikasi judul teks, kemudian membaca paragraf pertama, kedua, dan seterusnya secara terpisah. Pada setiap paragraf, mereka mencatat kosa kata baru, mencari arti kata kunci, dan mengenali jenis kalimat yang digunakan. Dengan memecah teks seperti ini, siswa tidak merasa terbebani dan lebih fokus pada bagian yang sedang dipelajari.

Setelah teks dipecah, siswa masuk pada tahap Pattern Recognition (Pengenalan Pola). Pada tahap ini, siswa mulai menyadari adanya pola yang berulang dalam Bahasa Arab. Misalnya, mereka menemukan pola jumlah fi‘liyah yang sering diawali dengan fi‘il, atau penggunaan dhamir yang berulang pada subjek tertentu. Dalam teks qirā’ah, siswa juga mengenali pola penggunaan kata kerja sesuai waktu atau aktivitas yang sama. Pengenalan pola ini membantu siswa memahami struktur bahasa tanpa harus menghafal setiap kalimat satu per satu.

Tahap berikutnya adalah Abstraction (Abstraksi). Setelah mengenali banyak kosa kata dan struktur kalimat, siswa tidak lagi fokus pada semua detail, tetapi mulai menyaring informasi penting. Mereka mencoba menangkap inti bacaan, seperti siapa tokoh dalam teks, apa kegiatan yang dilakukan, dan pesan utama yang ingin disampaikan. Detail seperti bentuk kata yang rumit atau keterangan tambahan yang tidak terlalu berpengaruh mulai diabaikan. Dengan abstraksi, siswa mampu menyimpulkan isi teks dengan kalimat sederhana dalam Bahasa Arab atau Bahasa Indonesia.

Tahap terakhir adalah Algorithmic Thinking (Berpikir Algoritmik). Pada tahap ini, siswa menyusun langkah-langkah sistematis untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Misalnya, ketika diminta membuat rangkuman teks atau menyusun kalimat serupa dengan teks bacaan, siswa mengikuti urutan tertentu: menentukan tema, memilih kosa kata yang sesuai, menyusun pola kalimat, lalu mengecek kembali ketepatan struktur dan makna. Urutan ini membantu siswa menghasilkan jawaban yang lebih rapi dan logis, bukan sekadar menebak.

Melalui contoh kasus ini, terlihat bahwa pembelajaran Bahasa Arab tidak hanya melatih kemampuan berbahasa, tetapi juga mengembangkan cara berpikir komputasional. Siswa belajar memecah masalah bahasa yang kompleks, mengenali pola kebahasaan, menyaring makna utama, dan menyusun langkah kerja secara runtut. Dengan pendekatan ini, Bahasa Arab tidak lagi dipandang sebagai pelajaran yang sulit, melainkan sebagai proses berpikir yang dapat dipelajari secara bertahap dan sistematis.

Referensi:

Microsoft Learn. "Computational thinking and its importance in education". https://learn.microsoft.com/en-us/training/modules/computational-thinking-importance-education/

0 komentar:

Post a Comment

Website ini dilindungi oleh :

Followers

Fanspage MTs Arabic

Pengunjung MTs Arabic

Live Pengunjung

Arsip MTs Arabic

Label

AKG Bahasa Arab AKM AKSI Analisis Alokasi Waktu Analisis SKL-KI-KD MTs Arsip ATP Bahasa Arab MTs Arsip Bimtek Arsip Buku Kerja Guru Arsip ITHLA Arsip Kurikulum Arsip Kurikulum Darurat Arsip Literasi Digital MTs Arsip MGMP Arsip P3K Kemenag Arsip Pelatihan Arsip Piagam MTs Arabic Arsip PPG Arsip Rapot Arsip Soal Arsip Soal Google Form Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 7 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 7 Bab 1 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 7 Bab 2 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 7 Bab 3 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 7 Bab 4 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 7 Bab 5 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 7 Bab 6 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 8 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 8 Bab 1 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 8 Bab 2 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 8 Bab 3 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 8 Bab 4 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 8 Bab 5 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 8 Bab 6 Arsip Soal Penilaian Harian Kelas 9 Arsip Surat Arsip TP Bahasa Arab MTs Arsip Webinar Asesmen Madrasah Bab 1 Bab 2 Bab 3 Bab 4 Bab 5 Bab 6 Bahasa Arab Bahasa Arab MTs Buku Kerja Guru 1 Buku Kerja Guru 2 Buku Kerja Guru 3 Buku Kerja Guru 4 Buku Pegangan Guru dan Siswa ClassPoint Computational Thinking CP Bahasa Arab MTs CPNS Daftar Hadir Daftar Nilai Daya Serap Siswa Deep Learning Download E-Learning Bahasa Arab MTs E-Modul Bahasa Arab Evaluasi Diri Kerja Guru Fase D Hari Guru Nasional Ikrar Guru Indonesia Ilmu Nahwu Ilmu Sharaf Indikator Soal Bahasa Arab MTs Indonesia Website Awards 2021 Info Madrasah IPK Jadwal Mengajar Guru Jurnal Agenda Guru KBC Kegiatan Pembelajaran Bahasa Arab Kelas 7 Kelas 8 Kelas 9 KGE KI-KD Bahasa Arab MTs Kisi-kisi Soal KKM Bahasa Arab MTs KMA 1503 Tahun 2025 KMA 183 Tahun 2019 KMA 347 Tahun 2022 Kode Etik Guru Kokurikuler Kumpulan Soal Kurikulum Berbasis Cinta Kurikulum Madrasah Kurikulum Merdeka Kurikulum Merdeka MTs Literasi MATERI BAB 1 MATERI BAB 2 MATERI BAB 3 MATERI BAB 4 MATERI BAB 5 MATERI BAB 6 Materi Bahasa Arab MTs Media Pembelajaran Modul 1 Modul 2 Modul 3 Modul 4 Modul 5 Modul 6 Modul Ajar Modul Bahasa Arab Modul Bahasa Arab P3K Modul Pedagogik Modul Pedagogik P3K Modul Profesional PPG Motivasi Nahwu Wadhih Naskah Akademik Olimpiade Bahasa Arab Panduan Kokurikuler Panduan Kurikulum Madrasah Panduan Pembelajaran dan Asesmen Pelatihan Dugi Academy Pembelajaran Mendalam Pembiasaan Guru Madrasah Penilaian Akhir Semester Penilaian Akhir Semester Kelas 7 Penilaian Akhir Semester Kelas 8 Penilaian Akhir Semester Kelas 9 Penilaian Akhir Tahun Penilaian Harian Penilaian Tengah Semester Perangkat Pembelajaran Perbaikan Soal PPPK Program Semester Program Tahunan Quizizz Regulasi Remedial dan Pengayaan RPP 1 Lembar SEMESTER 1 SEMESTER 2 Silabus Bahasa Arab MTs Soal AKG Soal AKM Bahasa Arab Soal Penilaian Tengah Semester Kelas 7 Soal Penilaian Tengah Semester Kelas 8 Soal Penilaian Tengah Semester Kelas 9 Tata Tertib Guru Tindak Lanjut Kerja Guru Tujuan Pembelajaran Tutorial Ujian Madrasah Wayground Wayground Arabic Wayground PAI Bahasa Arab