Tips Menyusun Tujuan Pembelajaran Insersi KBC
DISCLAIMER!!!
"Tidak ada aturan baku bagaimana cara membuat tujuan pembelajaran, terlebih jika diinsersikan dengan kurikulum berbasis cinta. Silakan disesuaikan dengan karakteristik madrasah, guru (mata pelajaran), murid, dan lingkungan nya masing-masing."
MTs Arabic - Tujuan Pembelajaran (TP) tidak lagi dapat dipahami sebagai sekadar rumusan administratif. Tujuan pembelajaran adalah kompas nilai yang menentukan arah pembentukan pengetahuan, sikap, dan perilaku murid. Oleh karena itu, penerapan insersi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam tujuan pembelajaran menjadi kebutuhan strategis untuk memastikan pembelajaran berjalan secara holistik, bermakna, dan berorientasi nilai.
Kurikulum Berbasis Cinta menuntut pergeseran paradigma dari pembelajaran yang berpusat pada transfer pengetahuan menuju pembelajaran yang menumbuhkan kesadaran spiritual, sosial, dan ekologis. Artikel singkat ini menyajikan panduan komprehensif dan aplikatif dalam menyusun tujuan pembelajaran insersi KBC agar mampu melampaui pendekatan konvensional dan menghasilkan perubahan nyata pada diri murid.
1. Integrasi Lintas Dimensi
Menggabungkan Pengetahuan, Sikap, dan Keterampilan Secara Utuh
Tujuan pembelajaran berbasis KBC harus memuat integrasi lintas dimensi, yaitu dimensi kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan). Tujuan pembelajaran yang hanya berisi kata kerja kognitif seperti menjelaskan, menyebutkan, atau mengidentifikasi tidak cukup untuk membentuk karakter dan kesadaran murid.
- Capaian Pembelajaran: (Contoh mapel Al-Qur'an Hadits Fase D)
"Menerapkan hukum bacaan mad ṭabī‘ī, mad far‘ī, dan bacaan gharib agar dapat membaca Al-Qur’an secara baik dan benar."
- Contoh Tujuan Pembelajaran Non-KBC:
Menerapkan hukum bacaan mad ṭabī‘ī, mad far‘ī, dan bacaan gharib dalam membaca Al-Qur’an.
Tujuan ini bersifat informatif, namun belum menyentuh dimensi nilai dan spiritual.
- Contoh Tujuan Pembelajaran Insersi KBC:
"Menerapkan hukum bacaan mad ṭabī‘ī, mad far‘ī, dan bacaan gharib dalam membaca Al-Qur’an secara tartil dengan menyadari bahwa membaca Al-Qur’an dengan benar merupakan bentuk penghormatan kepada kalam Allah Swt. serta meneladani Rasulullah saw. dalam menjaga adab membaca Al-Qur’an."
Rumusan ini menunjukkan integrasi yang utuh antara pemahaman konsep, kesadaran spiritual, dan keteladanan moral. Perlu diingat bahwa dari Capaian Pembelajaran bisa berkembang menjadi puluhan bahkan ratusan tujuan pembelajaran yang dibutuhkan. Poinnya, kembali ke kebutuhan guru.
2. Hubungkan dengan Panca Cinta
Internalisasi Nilai melalui Bahasa Tujuan Pembelajaran
Panca Cinta sebagai ruh Kurikulum Berbasis Cinta harus hadir secara eksplisit dalam tujuan pembelajaran. Gunakan frasa reflektif seperti “sebagai wujud cinta” dan “dengan kesadaran bahwa” untuk menunjukkan proses internalisasi nilai.
- Contoh Tujuan Pembelajaran Non-KBC:
Mengidentifikasi kesalahan bacaan mad ṭabī‘ī, mad far‘ī, dan bacaan gharib dalam membaca Al-Qur’an.
- Contoh Tujuan Pembelajaran Insersi KBC:
"Mengidentifikasi kesalahan bacaan mad ṭabī‘ī, mad far‘ī, dan bacaan gharib dalam membaca Al-Qur’an dengan kesadaran bahwa memperbaiki bacaan Al-Qur’an merupakan wujud cinta kepada Allah dan Rasul-Nya serta kecintaan terhadap ilmu Al-Qur’an."
Melalui rumusan ini, murid tidak hanya memahami sebab-akibat ekologis, tetapi juga diajak merefleksikan tanggung jawab moral dan spiritual sebagai manusia.
3. Fokus pada Makna, bukan Sekedar Prosedur
Menggeser Orientasi dari “Apa” ke “Mengapa”
Tujuan pembelajaran berbasis KBC harus mengarahkan murid pada pemaknaan mendalam, bukan sekadar penguasaan prosedural atau terminologis.
- Contoh Tujuan Pembelajaran Non-KBC:
Menjelaskan ketentuan mad ṭabī‘ī, mad far‘ī, dan bacaan gharib.
- Contoh Tujuan Pembelajaran Insersi KBC:
"Menjelaskan ketentuan mad ṭabī‘ī, mad far‘ī, dan bacaan gharib dengan kesadaran bahwa ketepatan bacaan Al-Qur’an mencerminkan sikap hormat, kesungguhan, dan tanggung jawab seorang muslim dalam berinteraksi dengan wahyu Allah Swt. sebagai wujud cinta kepada Allah dan Rasul-Nya."
Pendekatan ini menempatkan konsep ekologi sebagai realitas kehidupan yang harus dijaga, bukan sekadar materi ujian.
4. Arahkan pada Perubahan Perilaku Nyata
Dari Ruang Kelas ke Kehidupan Sehari-hari
Tujuan pembelajaran yang kuat adalah tujuan yang dapat diamati dalam perilaku nyata murid. Guru merumuskan tujuan yang berdampak langsung pada tindakan murid di rumah, sekolah, dan masyarakat.
- Contoh Tujuan Pembelajaran Non-KBC:
Menjelaskan cara membaca Al-Qur’an sesuai kaidah tajwid.
- Contoh Tujuan Pembelajaran Insersi KBC:
"Membiasakan membaca Al-Qur’an dengan menerapkan hukum mad ṭabī‘ī, mad far‘ī, dan bacaan gharib dalam kegiatan tadarus di sekolah maupun di rumah sebagai wujud cinta kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya serta tanggung jawab menjaga kemurnian bacaan Al-Qur’an."
Rumusan ini memastikan bahwa pembelajaran tidak berhenti pada wacana, tetapi berlanjut pada aksi nyata dan berkelanjutan.
5. Gunakan Bahasa yang Mendorong Empati dan Holistik
Membangun Kesadaran Keterhubungan Kehidupan
Bahasa dalam tujuan pembelajaran memiliki kekuatan membentuk cara berpikir dan bersikap murid. Oleh karena itu, gunakan diksi yang menumbuhkan empati, kepedulian, dan kesadaran akan keterhubungan kehidupan.
- Contoh Tujuan Pembelajaran Non-KBC:
Menganalisis kesalahan bacaan tajwid dalam membaca Al-Qur’an.
- Contoh Tujuan Pembelajaran Insersi KBC:
"Mempraktikkan bacaan Al-Qur’an sesuai kaidah mad ṭabī‘ī, mad far‘ī, dan bacaan gharib dengan sikap tenang, sabar, dan penuh penghormatan, sebagai wujud tanggung jawab menjaga keterhubungan diri dengan Allah Swt. melalui Al-Qur’an."
Penggunaan kata tenang, sabar, dan penuh penghormatan menegaskan bahwa manusia adalah bagian tak terpisahkan dari ekosistem.
Tujuan pembelajaran bukan sekadar kalimat formal dalam dokumen ajar, melainkan manifesto nilai pendidikan. Dengan menginsersikan Kurikulum Berbasis Cinta ke dalam tujuan pembelajaran, guru mengambil peran strategis sebagai arsitek peradaban, bukan hanya pengajar materi. Melalui integrasi lintas dimensi, keterkaitan dengan Panca Cinta, fokus pada makna, orientasi pada perilaku nyata, serta penggunaan bahasa empatik dan holistik, tujuan pembelajaran akan menjadi instrumen transformasi pendidikan yang sesungguhnya.
Semoga bermanfaat.
Sumber:
Materi Workshop Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta KKMTs Kabupaten Cianjur



0 komentar:
Post a Comment