Kisah Juha - Ambil Saja Uangnya (خذ أنت الدراهيم)
خذ أنت الدراهيم
مَرِضَ الْقَاضِي مَرَضًا شَدِيدًا فَتَوَلَّى بَدَلًا مِنْهُ كَاتِبُ الْبَلْدَةِ إِلَى أَنْ يَتِمَّ شِفَاؤُهُ... وَكَانَ ذَلِكَ الْكَاتِبُ غَيْرَ عَادِلٍ. وَذَاتَ يَوْمٍ كَانَ جُحَا مَارًّا فِي السُّوقِ لِيَشْتَرِيَ لَوَازِمَ بَيْتِهِ. فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ خَلْفِهِ وَصَفَعَهُ عَلَى قَفَاهُ صَفْعَةً شَدِيدَةً سَاخِرًا مِنْهُ!! نَظَرَ جُحَا إِلَى الرَّجُلِ غَاضِبًا وَقَالَ: مَا هَذَا؟! قَالَ الرَّجُلُ: عَفْوًا يَاسَيِّدِي، ظَنَنْتُكَ أَحَدَ أَصْدِقَائِي الَّذِينَ أَرْفَعُ الْكُلْفَةَ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ. فَلَمْ يَتْرُكْهُ جُحَا وَسَاقَهُ إِلَى دَارِ الْقَضَاءِ. وَاتَّفَقَ أَنَّ الرَّجُلَ كَانَ مِنْ أَصْدِقَاءِ الْكَاتِبِ فَلَمْ يَأْبَهْ أَوْ يَحْشَ شَيْئًا. بَيْنَمَا أَخَذَ جُحَا يَصِفُ لِلْكَاتِبِ مَا حَدَثَ!! وَلَمَّا سَمِعَ الْكَاتِبُ دَعْوَاهُمَا حَكَمَ عَلَى جُحَا بِأَنْ يَصْفَعَ الرَّجُلَ كَمَا صَفَعَهُ!! فَلَمْ يَرْضَ جُحَا بِذَلِكَ. قَالَ الْكَاتِبُ: مَادُمْتَ غَيْرَ رَاضٍ عَنْ ذَلِكَ فَإِنَّنِي أَحْكُمُ بِأَنْ يَدْفَعَ لَكَ عَشَرَةَ دَرَاهِمَ جَزَاءً نَقْدِيًّا. قَالَ الْكَاتِبُ لِلرَّجُلِ: اذْهَبْ أَنْتَ وَأَحْضِرْ لَنَا الدَّرَاهِمَ لِيَأْخُذَهَا جُحَا... وَكَأَنَّمَا يَدْعُوهُ لِلْهَرَبِ. وَهَكَذَا أَفْسَحَ الْكَاتِبُ الْمَجَالَ لِفِرَارِ صَدِيقِهِ.. وَانْتَظَرَ جُحَا سَاعَاتٍ عَلَى غَيْرِ فَائِدَةٍ!؟ نَظَرَ جُحَا إِلَى الْكَاتِبِ فَرَآهُ مَشْغُولًا فِي أَوْرَاقِهِ.. فَتَقَدَّمَ حَتَّى اقْتَرَبَ مِنْهُ. وَصَفَعَ جُحَا الْكَاتِبَ صَفْعَةً قَوِيَّةً دَوَّى لَهَا الْمَكَانُ. قَالَ جُحَا: يَاسَيِّدِيَ الْكَاتِبُ لَا تَعْجَبْ... فَإِنَّنِي مَشْغُولٌ جِدًّا وَلَيْسَ عِنْدِي وَقْتٌ لِلِانْتِظَارِ.. وَقَدْ أَخَذْتُ حَقِّي، وَعَلَيْكَ أَنْ تَأْخُذَ أَنْتَ الدَّرَاهِمَ مَتَى يَأْتِي بِهَا الرَّجُلُ..
Hakim kota jatuh sakit keras, maka panitera kota menggantikannya sementara hingga ia sembuh... dan panitera itu ternyata bukan orang yang adil. Suatu hari Juha sedang lewat di pasar untuk membeli keperluan rumahnya. Tiba-tiba seorang laki-laki datang dari belakangnya dan menampar tengkuknya dengan tamparan keras sambil mengejeknya!! Juha memandang laki-laki itu dengan marah dan berkata: "Apa-apaan ini?!" Laki-laki itu berkata: "Maaf Tuan, saya kira kamu salah satu temanku yang sudah tidak perlu sungkan lagi satu sama lain." Juha tidak membiarkannya begitu saja dan membawanya ke pengadilan. Kebetulan laki-laki itu adalah teman sang panitera, sehingga panitera tidak peduli sedikit pun. Sementara Juha menceritakan apa yang terjadi kepada panitera! Setelah panitera mendengar gugatan keduanya, ia memutuskan bahwa Juha boleh menampar laki-laki itu sebagaimana ia ditampar!! Namun Juha tidak menerima putusan itu. Panitera berkata: "Kalau kamu tidak puas dengan itu, maka aku putuskan agar ia membayarmu sepuluh dirham sebagai ganti rugi tunai." Panitera lalu berkata kepada laki-laki itu: "Pergilah kamu dan bawakan kami uangnya agar diambil oleh Juha..." seolah-olah mengajaknya untuk melarikan diri. Begitulah panitera memberi kesempatan kepada temannya untuk kabur.. dan Juha pun menunggu berjam-jam tanpa hasil!? Juha menatap panitera dan melihatnya sedang sibuk dengan tumpukan kertas-kertasnya.. maka ia melangkah maju hingga mendekatinya. Lalu Juha menampar panitera dengan tamparan keras yang menggelegar memenuhi ruangan. Juha berkata: "Tuan Panitera, jangan heran... saya ini sangat sibuk dan tidak punya waktu untuk menunggu.. saya sudah mengambil hak saya, dan Anda tinggal mengambil uang dirhamnya nanti kalau laki-laki itu membawanya."
Sinopsis
Sinopsis Kemegahan Hati di Balik Bulu yang Indah: Kisah Tharif dan Ketulusan Persahabatan
Pendahuluan: Mengenal Tharif yang Menawan
Di sebuah taman yang dipenuhi dengan pepohonan hijau dan bunga-bunga yang selalu mekar, hiduplah seekor burung merak yang sangat memukau bernama Tharif. Sesuai dengan namanya, Tharif bukanlah burung merak biasa; ia dikenal luas oleh seluruh penghuni hutan karena sifatnya yang sangat lembut dan baik hati (al-latif). Secara visual, Tharif memiliki penampilan yang luar biasa indah dengan bulu-bulu ekor yang panjang dan dihiasi dengan pola menyerupai mata yang berwarna biru, hijau, dan emas yang berkilauan saat terkena sinar matahari.
Meskipun Tharif memiliki kelebihan fisik yang menonjol, ia jauh dari sifat sombong. Ia tidak menggunakan kecantikannya untuk memamerkan diri, melainkan sebagai sarana untuk menyebarkan kebahagiaan di lingkungannya. Karakter Tharif mewakili perpaduan antara keindahan lahiriah dan keagungan batiniah, menjadikannya sosok yang sangat dihormati dan disayangi oleh teman-temannya di alam bebas tersebut.
Apresiasi Keindahan dan Kreativitas Tharif
Tharif memiliki hubungan yang sangat unik dengan dirinya sendiri dan alam sekitarnya. Salah satu kebiasaannya yang paling menarik adalah cara ia menghargai setiap helai bulunya. Dalam sumber diceritakan bahwa Tharif seringkali menyimpan bulu-bulu indahnya yang rontok ke dalam sebuah vas bunga (mazhariyah). Baginya, keindahan tersebut adalah anugerah yang harus dijaga dan dimanfaatkan, bukan sekadar dibuang begitu saja.
Kegemarannya yang lain adalah dunia seni tulis dan kriya. Tharif menggunakan bakat estetikanya untuk menghias kartu-kartu ucapan (taqat) dengan bulu-bulunya yang berwarna-warni. Ia sering menghabiskan waktu di atas meja kayunya, dengan penuh ketelitian menuliskan ungkapan-ungkapan selamat dan doa yang indah (’ibarat at-tahni’ah) menggunakan tulisan tangan yang sangat rapi dan elegan. Kartu-kartu ini kemudian ia kirimkan melalui kantor pos (barid) kepada sahabat-sahabatnya untuk merayakan hari raya atau momen-momen istimewa lainnya. Tindakan ini menunjukkan bahwa Tharif adalah sosok yang sangat memperhatikan detail dalam hubungan sosial dan selalu ingin memberikan perhatian personal bagi mereka yang ia sayangi.
Kedermawanan dan Penghibur Hati
Tharif adalah sosok yang sangat mencintai keharmonisan. Ia selalu berusaha agar teman-temannya merasa bahagia setiap kali berada di dekatnya. Sumber memperlihatkan bagaimana Tharif sering bernyanyi dan melantunkan nasyid (yansyudu) dengan suaranya yang merdu untuk menghibur teman-temannya tanpa mengenal waktu. Tidak jarang, ia juga memainkan alat musik tradisional (seperti kecapi atau oud) untuk menciptakan suasana yang syahdu di tengah padang rumput.
Kebahagiaan teman-temannya, seperti si katak hijau, kelinci putih, dan serangga kecil, adalah prioritas bagi Tharif. Ia percaya bahwa bakat yang ia miliki, baik dalam hal suara maupun seni peran, harus didedikasikan untuk membawa senyum ke wajah orang lain. Interaksi sosial Tharif yang sangat aktif ini menjadikannya pusat keceriaan di hutan tersebut.
Kesigapan dan Perlindungan: Sahabat Sejati di Kala Sulit
Ketulusan hati Tharif benar-benar diuji saat situasi menjadi sulit atau berbahaya. Ia bukan sekadar teman yang ada di saat senang, tetapi juga pahlawan yang bisa diandalkan di saat genting. Sumber menggambarkan beberapa momen aksi heroik Tharif:
- Melawan Dingin: Saat cuaca berubah menjadi dingin, Tharif mengambil inisiatif untuk mengumpulkan kayu bakar (al-hatab). Ia menyalakan api unggun yang besar agar teman-temannya bisa merasa hangat dan nyaman di tengah malam yang membekukan.
- Menghadapi Bahaya: Tharif tidak ragu untuk pasang badan demi melindungi orang-orang yang ia cintai. Ketika seekor ular (su'ban) yang menakutkan muncul dan mengancam teman-temannya, Tharif dengan sigap maju ke depan untuk bertahan dan membela mereka (yusari'u liyudafi'a 'anhum). Ia menggunakan tubuh dan ekornya yang besar untuk menciptakan benteng pertahanan bagi teman-temannya yang lebih kecil.
- Perlindungan dari Hujan: Saat hujan (mathar) turun membasahi bumi, Tharif tidak membiarkan teman-temannya basah kuyup. Ia membentangkan ekornya yang luas untuk menaungi sahabat-sahabatnya (tuzhilluhum bi-risyih) seolah-olah ia adalah sebuah payung raksasa yang megah. Di bawah naungan bulu-bulu emasnya, teman-temannya merasa aman dan terlindungi dari tetesan air hujan.
Penutup: Lingkaran Persahabatan yang Kekal
Cerita berakhir dengan pemandangan yang sangat menyentuh hati. Tharif yang berhati mulia ini selalu dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya (muhath bi-asdiqa’ihi) di setiap waktu dan kondisi. Kelembutan hatinya telah membuahkan kesetiaan yang luar biasa dari mereka yang pernah ia tolong. Tharif merasa sangat bahagia karena ia telah menemukan makna sejati dari keindahan, yaitu ketika ia bisa berguna bagi sesama. Ia belajar bahwa bulu yang indah akan pudar, namun kebaikan hati yang "latif" akan selalu membekas di ingatan teman-temannya selamanya.
Aspek Edukatif: Pengenalan Huruf "Tha" (ط)
Sebagai bagian dari metode pembelajaran bahasa yang kreatif, buku ini fokus memperkenalkan huruf "Tha" (ط) melalui berbagai kosakata kunci yang terdapat dalam narasi dan lampiran visual:
- Asmaul Husna: Al-Tayyib (Maha Baik).
- Dunia Hewan: Tawus (Burung Merak) dan Thair (Burung).
- Alam dan Lingkungan: Mathar (Hujan) dan Tariq (Jalan).
- Transportasi: Ta’irah (Pesawat terbang) dan Tawwafah (Helikopter).
- Bahan Makanan: Tamatim (Tomat), Tahin (Tepung), dan Milh (Garam - mengandung huruf Tha).
- Peralatan dan Profesi: Tabaq (Piring), Tawilah (Meja), Tabib (Dokter), dan Tifl (Anak kecil).
Kisah Tharif mengajarkan kepada anak-anak tentang pentingnya kebaikan hati, kerelaan berkorban demi teman, serta bagaimana menggunakan kelebihan diri untuk menolong orang lain. Dunia Tharif membuktikan bahwa kecantikan yang sesungguhnya berasal dari hati yang tulus dan tangan yang selalu ringan untuk membantu.
File kisah cerita anak tentang: طريف الطاووس اللطيف - Tharif si Merak yang Baik Hati dapat di unduh di bawah ini.



0 komentar:
Post a Comment